Tampilkan postingan dengan label Warna Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warna Islam. Tampilkan semua postingan

21 Juli 2010

Bicara Kopi Luwak

Kutipan percakapan di bawah ini diambil apa adanya dari sebuah akun di facebook. Kutipan di bawah ini sengaja dipublikasikan di blog ini sebagai tambahan informasi untuk menambah wawasan mengenai perbedaan pendapat mengenai Kopi Luwak.

Satu: MUI menegaskan bahwa Kopi Luwak itu Halal.

Dua: ...emang bener2 perlu fatwa MUI kalo KOPI itu ga haram...?

Satu: Kalau cuma kopi kayaknya gak perlu, tapi kalau berkaitan dengan sesuatu yang keluar dari anus binanatang mungkin perlu.

Anton: I doubt it would be the most expensive coffee in the world if it had poo stains lol. congrats to mui, they've successfully become a laughing stock once again.

Dua: jadi, dokter hewan itu pekerjaan halal apa haram?

Satu: Maksud pernyataan lo ke arah mana, Dua?

Dua: ke arah logika dengan semua yang berhubungan ama 'sesuatu yang keluar dari anus binatang' perlu ditetapkan halal apa nggak... kalo tu biji kopi keluar dari anus anjing ato babi, oke lah, maklum gw...tapi dari luwak?

Satu: Kotoran binatang itu najis terlepas dari jenis binatangnya; gak spesifik ke babi dan anjing. Kopi Luwak itu kan keluar dari anus Luwak. Jadi muncul perdebatan akan kehalalannya karena bahan baku utama Kopi Luwak itu keluar bersama kotoran Luwak yang masuk kategori najis itu. Gw justru gak ngerti cara lo menghubungkan dokter hewan dalam konteks ini karena pekerjaan dokter hewan gak ada hubungannya dengan memakan sesuatu yang masuk kategori najis.

Dua: karena dokter hewan ga memakan kotoran binatang seperti halnya peminum kopi luwak yang bijinya udah dibersihin? ato emang kebanyakan orang su'udzon biji kopi luwak itu akan dan selalu kotor karena keluar dari anus binatang? apa orang banyak yang su'udzon soal daging sapi dibacain basmalah pas dipotong apa nggak? apa orang banyak yang su'udzon soal daging ayam dibacain basmalah pas dipotong apa nggak? apa orang banyak yang su'udzon soal ikan lele yang dipiaranya di septic tank apa nggak (apalagi yang di warung2)? kalo jawaban buat semua di atas itu 'nggak', gw ga ngerti knapa kopi luwak sampe perlu fatwa halal...apa gara2 banyak orang su'udzon biji kopinya ga bersih dicucinya? lagian, semua sayuran yang pupuknya pake kotoran hewan itu apa juga cenderung ga halal karena siapa tau dicucinya ga bersih sebelom dijual?

Satu: Yang membuat gw pribadi ragu minum kopi luwak adalah kenyataan bahwa itu adalah kotoran hewan. Apa pun penjelasan yang menegaskan kebersihan prosesnya, gw tetap merasa bahwa minum kopi luwak adalah minum kotoran hewan. Jadi buat gw pribadi itu bukan masalah bersih atau tidak bersihnya. Sementara bagi orang lain, gw gak terlalu tahu. Mungkin logika lo mengenai persangkaan bahwa kotor atau tidak kotor itu mengena. Cuma untuk perbandingannya gw kurang setuju, Dua. Pertama, sembelih dengan basmalah itu bukan sesuatu yang pasti dan kita sebaiknya berbaik sangka. Sementara Kopi Luwak itu PASTI keluar dari anus Luwak. Kedua, yang dimakan dari lele adalah dagingnya (bukan tahinya) sementara daging ikan tidak ada yang diharamkan untuk dimakan. Kondisi ini juga berbeda dengan kopi luwak karena yang dimakan dari kopi luwak adalah bagian dari tahinya. Ketiga, untuk sayuran. Emang sebelum dimasak gak dicuci dulu ya? :)

Dua: pertama, perbandingan dari lo soal daging sapi yang kurang ngena... gw ngebandingin pemrosesannya sebelom dijual, BUKAN asal muasalnya... kedua, apakah air tempat lele tersebut menjadi bagian dari ikannya? again, masalah pemrosesan... ketiga, lagi2 masalah pemrosesan... untuk ketiga masalah di atas, kita ga perlu fatwa MUI buat nganggep itu halal... kopi luwak itu udah ada sejak lama...knapa baru sekarang?

Satu: Gw pribadi melihat bahwa pendapat yang mengatakan Kopi Luwak itu haram justru melihat dari asalnya, yaitu dari kotoran hewan. Oleh karena itu gw gak setuju dengan analogi lo. Daging sapi atau ayam itu halal. Dia menjadi haram bila sapinya itu bangkai atau disembelih tanpa basmalah. Kalau masalah sembelih sendiri kita gak bisa pastikan secara langsung. Oleh karena itu kita perlu berbaik sangka. Untuk daging lele, kalau pun daging lele itu ditimbun tahi pun tetap saja halal asalkan dibersihkan dengan baik; tapi kemungkinan besar orang bakal jijik memakannya. :) Itu karena daging lele pada dasarnya halal. Berbeda dengan kopi luwak yang pada hakikatnya adalah kotoran hewan. Hal yang sama berlaku untuk sayuran. Terus terang kalau dikaitkan dengan pernyataan MUI di link yang gw publish memang agak meleset. MUI kelihatannya hanya melihat ini dari prosesnya, bukan dari asalnya. Di titik ini, kalau lo masih melihat dari proses sementara gw melihat dari asal muasal, sebaiknya kita akhiri dengan kalimat "we agree to disagree". Toh ini cuma masalah kopi yang pada dasarnya bukan hal yang prinsip dalam Islam. :) PS: Kalau masalah "baru sekarang", kelihatannya karena MUI seringkali bersifat reaktif, Dua. Setelah ada isu halal-haram baru MUI bertindak. Kayaknya MUI sering banget kayak begini.

Dua: "Kalau masalah sembelih sendiri kita gak bisa pastikan secara langsung. Oleh karena itu kita perlu berbaik sangka." jadi intinya, orang ga bisa berbaik sangka soal gimana produsen kopi luwak ngebersihin biji kopinya? "Toh ini cuma masalah kopi yang pada dasarnya bukan hal yang prinsip dalam Islam. :)" exactly the reason gw nanya kenapa perlu fatwa MUI segala buat menyatakan kopi luwak itu halal...

Tiga: errr.. helloo.. kopi luwak berasal dari kotoran? si Luwak bukannya cuma roasting-machine hidup ya? :P Lagian orang yang minum juga mikir kali, mosok bakal mo beli mahal2 kl ada eek-nya :))

Dua: itulah guna fatwa MUI...biar orang masih mo bli mahal meskipun tau asal muasal biji kopi-nya... xb

Satu: @Tiga: Terlepas dari dibersihkan atau tidak, bahan bakunya kopi luwak itu adalah bagian dari kotoran luwak. Ini yang, menurut gw, menjadi alasan munculnya pendapat bahwa kopi luwak itu haram. @Dua: Masalah berbaik sangka. Daging sapi mentah itu kan dari hasil sembelih sapi. Proses sembelihnya dengan basmalah atau tidak itu (yang menjadi pembeda halal atau haramnya) kita tidak tahu. Bahan baku kopi luwak itu kan bagian dari kotoran luwak. Yang ini dah jelas. Bagi orang-orang yang berpendapat seperti ini, kopi luwak dianggap haram.

Satu: On a side note ... Gw ngerti maksud lo, Tiga. Kabarnya yang keluar dari anus Luwak sebagai bahan baku kopi luwak itu tidak mengalami pengolahan di dalam perut luwak. Itu artinya yang masuk sama dengan yang keluar. Kalau yang masuk halal, maka yang keluar juga halal. Dengan ini, gw koreksi statement gw bahwa bahan baku kopi luwak berasal dari kotoran luwak. Gw rubah menjadi bagian dari kotoran luwak. Gw sendiri masih gak bisa meyakinkan diri gw bahwa kopi luwak itu halal, tapi gw bertekad untuk tidak menyebarkan pendapat ini kepada orang lain karena memiliki resiko mempertajam perbedaan.

Tiga: tapi Satu, fatwanya udah keluar, “Kopi luwak hukumnya mutanajis. Artinya, kena najis, dinyatakan halal setelah melalui proses pencucian”

Tiga: Kl buat gueeee.... Hukum Kopi Luwak itu Haram kl gue beli sendiri, Halal kl dibeliin :))

Satu: Iya, Tiga. Gw terima kok kalau Kopi Luwak itu halal. Cuma merubah keyakinan kan gak butuh waktu sebentar. :) PS: Lebih haram lagi kalau sampai membelikan kopi luwak buat orang lain. :P

Silakan memberikan komentar bagi yang berkenan.

16 Juli 2010

Menjadi Muslim, Bangga atau Malu?

Islam adalah agama yang komprehensif. Ajarannya meliputi berbagai seluk kehidupan manusia. Mulai dari yang sederhana seperti cara makan sampai yang rumit seperti cara mengemban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, semuanya diajarkan dalam Islam; baik melalui Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Islam adalah agama dengan batasan yang fleksibel. Setiap Muslim diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu, tapi keringanan diberikan bagi Muslim yang sakit, berhalangan, atau ada dalam perjalanan. Kewajiban untuk shalat tetap berjalan sampai seorang Muslim mati, tapi aturan pelaksanaannya masih manusiawi.

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebebasan bertanggung jawab. Setiap Muslim diperbolehkan melakukan hubungan sosial dengan manusia lain asalkan tetap menjaga aurat dan pandangan. Setiap Muslim diperbolehkan mengikuti bakat dan minatnya asalkan tidak berbenturan dengan ajaran-ajaran Islam.

Islam seharusnya menjadi agama (atau lebih tepatnya pegangan hidup) yang dapat dibanggakan. Setiap Muslim seharusnya bangga menjadi orang-orang yang menjaga aurat, pandangan, syahwat, dan emosi mereka. Setiap Muslim seharusnya bangga menjadi orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab.

Akan tetapi kenyataan di dunia ini sepertinya bertolak belakang. Islam bukan lagi agama yang membanggakan. Bahkan di mata orang-orang bukan beragama Islam, Islam justru terlihat sangat menakutkan. Islam di mata masyarakat pada umumnya lebih dekat kepada fundamentalis, ekstremis, dan teroris.

Ada sebegitu banyak nilai kebajikan (dan kebijakan) yang diajarkan dalam Islam, namun yang terlihat justru Islam yang buruk dan keras. Seolah-olah sudah terbentuk sebuah persepsi umum bahwa semakin dekat seseorang ke dalam Islam, semakin buruk dan keras sifat orang tersebut.

Setiap Muslim yang menolak berjabatan tangan dengan lawan jenis bukan muhrim terlihat aneh. Setiap wanita Muslim yang memakai jilbab panjang terlihat janggal. Setiap pria Muslim dewasa yang tidak merasa nyaman menonton film mesum justru mengundang tawa. Setiap pria Muslim dewasa yang memanjangkan jenggotnya bahkan diolok-olok.

Ada begitu banyak karakter dalam Islam yang akhirnya tidak dapat diterima oleh masyarakat; baik secara eksplisit maupun implisit. Semakin lama semakin sedikit orang yang berani menunjukan identitasnya sebagai seorang Muslim. Kadang karena khawatir tidak mendapatkan pekerjaan, kadang karena khawatir dikucilkan teman dan keluarga, atau berbagai alasan lainnya. Semakin banyak orang yang tidak bangga dengan identitasnya sebagai seorang Muslim.

Pada akhirnya semakin banyak orang-orang yang mengaku beragama Islam tanpa karakter seorang Muslim. Pergaulan bebas (bahkan seks bebas), mempertontonkan aurat, bergunjing, berjudi, mempercayai ramalan, dan berbagai hal lain dilakukan oleh mereka. Hal ini menjadi lebih ironis karena pada saat yang sama orang-orang ini tetap melaksanakan shalat lima waktu (atau mungkin sudah dikurangi menjadi dua atau tiga waktu saja?).

Hilangnya rasa kebanggaan sebagai seorang Muslim tentunya didorong oleh banyak faktor. Masyarakat pada umumnya melihat ke arah barat sebagai suri teladan mereka. Negara-negara barat jelas-jelas dipandang lebih tinggi oleh masyarakat pada umumnya. Cara menghias diri, cara berpakaian, cara bekerja, cara bersenang-senang, dan berbagai pola hidup masyarakat barat diteladani; termasuk produk keluaran negara-negara barat itu.

Cara meneladani negara barat itu mudah. Setiap orang dapat melihat gaya hidup orang-orang di negara barat itu melalui televisi. Stasiun televisi lokal saat ini tidak hanya menyiarkan acara-acara dari negara-negara lain, tapi juga mengadopsi atau bahkan membuat versi sendiri dari acara-acara itu. Sampai-sampai banyak pihak menganggap stasiun televisi negara ini tidak lagi memiliki kreatifitas yang memadai.

Televisi memang memiliki andil yang besar dalam mencitrakan kriteria seorang Muslim yang baik di negara Indonesia ini. Pemberitaan mengenai kekerasan umat Islam ditambah minimnya ekspos terhadap kebaikan dalam Islam membuat orang berpikir berpuluh-puluh kali sebelum mendekat lebih jauh ke arah Islam. Yang lebih ironis lagi adalah kebanyakan orang memilih menjadikan sinetron religi (tapi tidak religius) sebagai tolok ukur karakter seorang Muslim.

Akhirnya semakin banyak orang Muslim yang tidak berbeda dengan orang yang bukan Muslim. Shalat wajib dilakukan kalau sempat (dan kalau ingat), bergaul tanpa melihat batas muhrim atau non-muhrim, makan-minum sambil berdiri (dan menggunakan tangan kiri), seks bebas menjadi masalah privasi (dan bukan masalah dosa), taruhan menjadi masalah sepele, takdir Allah SWT disandingkan dengan ramalan (oleh manusia, binatang, bahkan benda mati), dan daftar ini pun terus berlanjut.

Oleh karena itu, saya rasa pantas bila timbul pertanyaan apakah menjadi Muslim itu sebuah kebanggaan atau sebaliknya justru memalukan. Memang tidak semua orang sungkan atau bahkan malu menjadi seorang Muslim yang komprehensif, tapi berapa banyak orang-orang yang bangga ini bila dibandingkan dengan orang-orang yang merasa sebaliknya? Semoga kita bisa tetap bangga menjadi Muslim.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/document/rI7ousaG/MenjadiMuslimBanggaAtauSungkan.html

17 September 2009

101 Alasan Memilih Islam

Islam adalah pedoman hidup dan bukan sekedar agama. Islam tidak hanya berurusan dengan ibadah ritual, tapi juga terkait erat dengan kehidupan sosial. Ajarannya yang menyeluruh ini yang menegaskan bahwa Islam bukan sekedar agama yang terpisah dari urusan duniawi. Bila seseorang mengikuti ajaran, maka orang itu memiliki kesempatan untuk mempraktekan apa yang ia pelajari di dalam Masjid dan di tengah-tengah masyarakat.

Islam mengajarkan banyak hal tentang aturan dan tata cara beribadah kepada Allah SWT. Hal ini menjadi penting karena ibadah pada dasarnya ibadah bersifat haram kecuali memang benar-benar diperintahkan oleh Allah dan menjadi sunnah Rasullullah SAW. Islam juga mengajarkan banyak hal tentang hidup bermasyarakat karena pada dasarnya segala sesuatunya dalam hidup bermasyarakat adalah halal kecuali yang dilarang oleh Allah SWT maupun dilarang oleh Rasulullah SAW.

Sungguh sangat disayangkan bila pedoman hidup itu diikuti tanpa keyakinan yang kuat akan kebenarannya. Atas alasan ini saya tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa setiap Muslim (orang yang memeluk Islam) perlu menegaskan kembali keyakinan mereka akan kebenaran Islam.

Penegasan kembali itu dapat dimulai dengan pertanyaan "Kenapa saya memilih Islam?" Untuk selanjutnya kita sendiri harus menjawab pertanyaan ini sesuai dengan keyakinan kita apa adanya. Sebagian orang mungkin menjawab pertanyaan itu dengan "Karena kakek, nenek, ayah, ibu, om, tante, abang, kakak, dan semua keluarga yang saya kenal memeluk Islam."

Sebagian lain mungkin telah mendapatkan kesempatan untuk melihat mukjizat yang membuat mereka yakin bahwa Allah itu ada. Sebagian lain mungkin menegaskan bahwa pilihan mereka pada Islam adalah karena karunia Allah itu sendiri. Sebagian lain mungkin akan memberikan alasan yang jauh berbeda dibanding contoh-contoh tersebut.

Sebagian lain mungkin lebih memilih alasan-alasan yang bersifat ilmiah, yaitu alasan-alasan yang dapat didukung dengan logika berpikir manusia. Alasan-alasan ini mungkin terkait dengan keajaiban-keajaiban yang ditemukan dalam diri manusia itu sendiri atau lewat fenomena-fenomena yang timbul di alam semesta ini.

Variasi dari masing-masing alasan itu pun bisa jadi tidak sedikit. Saya yakin justru terlalu banyak bila harus dibeberkan satu per satu dalam tulisan. Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan bentuk lisan (atau tulisan) dari alasan-alasan itu. Yang perlu diperhatikan adalah sekuat apa fondasi keyakinan yang dibentuk oleh masing-masing alasan tersebut.

Entah itu karena nenek moyang, karena alasan ilmiah, karena mukjizat, karena petunjuk dan karunia Allah, tetap saja yang paling penting adalah kekuatan fondasi keimanan yang dibentuk alasan tersebut. Menganggap alasan yang satu lebih lemah ketimbang alasan yang lain pun sebenarnya tidak layak untuk dilakukan karena kekuatan sebuah alasan terkait erat dengan kondisi orang yang bersangkutan.

Jangan sampai usaha kita untuk menegaskan keimanan ini malah berbalik membuat kita kehilangan pijakan. Setiap manusia memiliki karakteristik kemampuan berpikir masing-masing. Oleh karena itu jangan sampai kita disibukan dengan memikirkan (atau bahkan membuat-buat) alasan-alasan tanpa memikirkan kekuatan fondasi keimanan kita. Fokus kita dalam mempertanyakan keyakinan kita tidak lain untuk memperkuat keyakinan kita itu sendiri.

Tulisan terkait:
Kenapa Anda Memilih Islam?

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135011822/48de80d4/101AlasanMemilihIslam.html

10 September 2009

Kenapa Anda Memilih Islam?

Yakinkah kamu akan kebenaran Islam? Apakah kamu yakin bahwa Islam itu agama yang paling benar? Kalau Islam itu memang yang PALING benar, apakah itu artinya agama selain Islam bisa jadi benar, cukup benar, agak benar, atau memiliki derajat kebenaran tersendiri?

Pernahkah kita mempertanyakan Islam yang bertahun-tahun kita anut? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran Allah sebagai Sang Pencipta? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran isi Al Quran dan Al Hadits? Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan kita di dunia ini?

Entah berapa tahun kita sudah hidup di dunia ini, seberapa sering kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang kita yakini? Hidup kita sudah diisi oleh rutinitas, kebiasaan, kebudayaan, dan berbagai embel-embel lainnya. Apakah semua itu memang perlu kita lakukan? Yakinkah kita bahwa hidup kita sudah diisi oleh hal-hal yang MEMANG kita yakini sebagai kebenaran?

Kita kembali kepada konteks keimanan. Setiap orang yang beragama tentu mempercayai bahwa agama yang dia peluk adalah agama yang benar -atau paling tidak yang PALING benar. Sayangnya kerap kali fondasi keimanan itu tidak kuat sehingga orang yang beragama itu tidak lagi mengikuti agama yang dia yakini. Kadang orang tersebut dengan mudahnya berpindah agama. Paling tidak tanpa fondasi yang kuat, keimanan seseorang akan mudah goncang akibat pengaruh eksternal.

Apa fondasi keimanan Anda? Apa yang menjadi dasar Anda memilih Islam? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan kita? Pernahkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini timbul dalam pikiran dan hati Anda?

Wajar memang kalau fondasi keimanan kita tidak jauh dari alasan keturunan dan tradisi. Tidak sedikit orang yang sudah hidup puluhan tahun hanya mengacu pada keturunan atau tradisi semata. Memang sebenarnya masalah ini adalah bagian dari masalah besar pola pendidikan kita, tapi bukan berarti kita harus terus seperti itu sampai kita mati.

Islam memang menuntut kita untuk patuh, tapi kepatuhan itu sepantasnya dikuatkan oleh pemahaman terhadap hal yang harus kita patuhi. Kepatuhan tanpa pemahaman yang cukup (umumnya disebut dengan istilah Taklid Buta) akan berujung pada hasil yang buruk. Taklid buta akan membuat seseorang menjadi keras kepala karena sulit membuka pikirannya untuk menerima pendapat orang lain.

Taklid buta mungkin terlihat sebagai manifestasi dari tingkat kepatuhan yang kuat. Akan tetapi bagian dalam dari kepatuhan yang kuat itu sebenarnya rapuh. Bila dihadapkan dengan kondisi atau argumen yang tepat mengenai bagian rapuh itu, taklid buta menjadi mudah untuk ditumbangkan.

Keberhasilan kita untuk memahami Islam, memahami perintah Allah dalam Al Quran, dan memahami ajaran Rasulullah lewat Hadits akan memperkokoh keimanan kita. Kita memiliki kemampuan untuk mementalkan pertanyaan-pertanyaan yang menggoncang dan pada akhirnya menghancurkan keimanan kita.

Bila datang lagi pertanyaan tentang alasan Anda memilih Islam, Anda tidak lagi ragu dengan jawaban Anda. Keyakinan itu sudah mantap di hati karena Anda tahu dan Anda PAHAM bahwa apa yang Anda yakini itu adalah yang benar dan bukan sekedar yang PALING benar.

Tulisan terkait:
Apa itu Islam?
Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat
Islam Keturunan
Toleransi dalam Islam
Toleransi untuk Tradisi
Toleransi, Bukan Aliansi

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135008625/9c4c5e47/KenapaAndaMemilihIslam.html

06 November 2008

Toleransi, Bukan Aliansi

Saya rasa nama AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Terus terang pertama kali saya mendengar nama AKKBB adalah saat mereka terlibat insiden dengan FPI (Front Pembela Islam) yang terjadi di Silang Monas (Monumen Nasional) pada tanggal 1 Juni 2008.

Saya tidak bermaksud membicarakan insiden tersebut. Melihat tanggal hari ini, insiden tersebut seharusnya sudah basi. Saya juga tidak bermaksud membicarakan AKKBB. Saya juga bukan pendukung FPI. Sesuai judul yang ada di atas, saya ingin bicara mengenai "aliansi".

Aliansi, setahu saya, adalah sebuah kesatuan dengan tujuan yang sama. Saat ada lebih dari satu pihak bersatu untuk satu tujuan yang sama, kita bisa sebut itu sebagai aliansi. Saya pribadi tidak punya masalah dengan kata "aliansi". Tapi saya tergelitik untuk berkomentar bila ada aliansi untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Sebelum saya menulis lebih jauh lagi, saya tegaskan bahwa saya tidak bermaksud menyinggung organisasi AKKBB.

Toleransi beragama merupakan sesuatu yang diajarkan Islam. Untuk masalah ini saya rasa cukup bila kita merujuk kepada Al Quran sebagaimana saya kutip di bawah.

"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (Al Kaafiruun : 6)

Tidak pernah ada paksaan bagi siapa pun untuk memeluk Islam. Dakwah dalam Islam adalah mengajak, bukan memaksa. Bila ada orang yang tidak berkenan diajak memeluk Islam, maka setiap juru dakwah dalam Islam harus menghormati keputusan itu.

Sikap seorang Muslim yang mempersilakan orang memilih untuk tidak memeluk Islam adalah bentuk toleransi yang diajarkan Islam. Tapi toleransi ini, menurut saya, tidak berarti mendorong orang untuk memeluk agama lain selain Islam.

Saya bukan bermaksud menjadi orang fanatik. Tapi setiap orang harus membela keyakinan yang ada di dalam hatinya. Seorang Muslim harus yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Keyakinan ini yang mengimbau setiap Muslim untuk mengajak orang memeluk Islam karena pada dasarnya ajakan tersebut adalah ajakan kepada kebenaran.

Membela keyakinan terhadap Islam jangan sampai bertentangan dengan toleransi yang diajarkan Islam. Menghormati hak orang untuk memilih agama lain adalah toleransi. Tapi mendorong orang untuk memeluk agama lain adalah pengkhianatan terhadap keyakinan seorang Muslim.

Terkait dengan aliansi untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan, saya sedikit bingung saat melihat ada banyak organisasi Islam yang tergabung dalam AKKBB (lihat ini). Mengapa? Menurut pemahaman saya, menjadi anggota AKKBB berarti mendukung eksistensi agama lain. Sekali lagi saya tidak bermaksud fanatik. Saya hanya heran karena menurut saya hal ini bertentangan dengan keyakinan saya sebagai seorang Muslim.

Bentuk toleransi dalam Islam terhadap agama lain yang saya pahami adalah setiap Muslim tidak boleh memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Selain itu, setiap Muslim harus menghormati hak orang untuk memilih agama selain Islam. Setiap Muslim juga tidak berhak mengintimidasi orang yang memeluk agama lain selain Islam.

Tapi toleransi tersebut sepertinya tidak sejauh ikut mempromosikan agama lain melalui gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Toleransi tersebut sepertinya tidak sejauh ikut melanggengkan eksistensi agama lain melalui gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Toleransi terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan bukan berarti menjadi bagian dari gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan itu. Menjadi seorang Muslim yang meyakini Islam sebagai agama yang benar bukan berarti harus bersikeras (apalagi dengan kekerasan) untuk memaksakan Islam ke dalam hati setiap manusia. Setiap Muslim perlu menemukan kombinasi yang tepat antara mempertahankan keyakinan dan menghormati manusia lain.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95606305/9d9340ee/ToleransiBukanAliansi.html

27 Oktober 2008

Toleransi untuk Tradisi

Menyikapi tradisi bertujuan ibadah dalam Islam tidak semudah membedakan hitam dan putih. Wilayah abu-abu itu sering saya alami sendiri. Umumnya wilayah abu-abu ini terkait dengan pilihan antara tetap tegas mengacu pada hukum dalam Islam atau menjaga hubungan baik dengan para penerus tradisi tersebut.

Penolakan tradisi seperti ini sering sulit dilakukan karena umumnya para penerus tradisi mengacu kepada kata-kata "tidak dilarang". Padahal ibadah seharusnya mengacu kepada kata-kata "tidak diperintahkan". "Tidak dilarang" digunakan untuk menilai sesuatu yang tidak terkait dengan ibadah. Penolakan ini akan lebih sulit lagi kalau tradisi tersebut sudah dicampuri oleh keyakinan. Kita semua tahu merubah keyakinan seseorang itu bukan hal yang mudah.

Saya ambil contoh tahlilan. Setiap ada orang yang meninggal, anggota keluarga yang ditinggalkan akan mempersiapkan acara tahlilan. Sebenarnya mereka sudah cukup repot mengurus pemakaman jenazah yang meninggal. Tapi dengan wajibnya acara tahlilan, mereka lebih direpotkan lagi dalam mempersiapkan tempat dan makanan untuk menyambut para peserta tahlilan tersebut.

Saya tidak pernah menemukan dasar aturan dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah yang menganjurkan, apalagi mewajibkan tahlilan. Secara logika, saya juga menolak tahlilan karena menurut saya tidak masuk akal bila anggota keluarga yang ditinggalkan harus mengeluarkan biaya, waktu, dan energi untuk menggelar acara tahlilan. Tapi untuk menolak prosesi acara tahlilan bukan hal yang mudah bagi saya karena saya dihadapkan dengan sebuah masyarakat yang percaya bahwa tahlilan itu "wajib" atau minimal "penting".

Saat Ayah saya meninggal dunia, Saya tidak kuasa mencegah prosesi acara tahlilan terkait. Ibu saya mendukung acara tahlilan tersebut. Ustad di lingkungan rumah saya pun mendukung acara tahlilan. Saya sendiri tidak punya orang lain untuk mendukung argumen saya. Pada akhirnya acara tahlilan itu berjalan sampai selesai. Saya sendiri akhirnya ikut membantu persiapan acara tahlilan itu walaupun hati saya senantiasa menolak hingga acara itu berakhir.

Keputusan besar untuk turut membantu acara tahlilan itu didasari pertimbangan bahwa sikap keras saya menolak tahlilan itu akan membuat saya terlihat berbeda dalam arti yang negatif. Ada kemungkinan besar bahwa saya akan terlihat seperti orang yang sok tahu, keras kepala, dan aneh. Hal ini sepertinya akan membawa dampak negatif yang lebih besar karena ada kemungkinan di kemudian hari keluarga saya tidak lagi mau mendengar pendapat saya.

Saya bersyukur Allah masih memberikan tempat untuk toleransi. Akhirnya saya memilih langkah moderat dalam menyikapi prosesi acara tahlilan untuk Ayah saya. Saya tetap membantu, tapi hati saya mengingkari. Kalau kita bicara keyakinan, bentuk penolakan paling rendah adalah penolakan dalam hati. Bentuk penolakan ini yang dengan berat hati saya pilih.

Kondisi abu-abu seperti itu sebenarnya masih banyak lagi. Saya sendiri sering mengalaminya dan saya yakin hidup pembaca sekalian tidak luput dari hal yang sejenis. Pedoman saya dalam menyikapi masalah abu-abu ini sama dengan pedoman saya menyikapi bohong putih. Saya tegaskan dalam hati bahwa yang salah itu tetap salah sementara saya memohon ampun karena terpaksa melakukan hal yang salah.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95607067/9f3d5f78/ToleransiUntukTradisi.html

15 Oktober 2008

Tradisi dalam Islam

Kalau kita bicara keturunan, tentu tidak akan lepas dari tradisi. Entah ada berapa macam tradisi yang sudah diturunkan kepada kita, generasi sekian ribu sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW. Melalui tulisan ini, saya akan paparkan beberapa kebiasaan yang menurut saya hanya dilandaskan kepada tradisi ketimbang kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah.

Tahlilan
Tahlilan adalah tradisi pertama yang terpikir oleh saya. Sampai saat ini saya tidak bisa menemukan satu dalil pun yang membenarkan prosesi acara tahlilan itu dilakukan. Secara logika, saya sendiri tidak setuju dengan acara tahlilan. Kenapa tidak logis? Tidak logis bila sebuah keluarga yang ditinggal mati salah seorang anggota keluarganya harus repot-repot menyiapkan tempat dan makanan lengkap untuk orang-orang yang datang untuk mendoakan yang mati. Sudah ditimpa musibah malah harus keluar biaya dan tenaga untuk menjamu para pendoa.

Takbiran
Takbiran merupakan tradisi lain yang kental dalam perayaan hari raya Idul Fitri. Prosesi takbiran yang saya maksud adalah takbiran di malam terakhir bulan Ramadhan yang dilakukan beramai-ramai, umumnya dengan memukul bedug, sambil berjalan-jalan (entah menggunakan kendaraan apa) keliling kota, kampung, kecamatan, atau minimal RT-RW setempat. Memang ada perbedaan pendapat mengenai ucapan takbir, waktu takbir, dan dilakukan bersama-sama atau sendiri-sendiri, tapi saya tidak pernah menemukan dalil yang menjadi dasar prosesi takbiran keliling kampung tersebut.

*Gambar diambil dari http://indonesia.nomadlife.org/

Ziarah Kubur pada Waktu Tertentu
Manfaat ziarah kubur yang paling utama adalah untuk mengingat kematian dan mengambil sedikit waktu untuk mendoakan mereka yang telah mati. Jadi kenapa harus dilakukan pada waktu-waktu yang khusus? Dalam masyarakat Indonesia, saya perhatikan ada beberapa waktu khusus untuk ziarah kubur antara lain sebelum bulan Ramadhan atau sebelum hari raya Idul Fitri.

*Gambar diambil dari http://www.clipartheaven.com/

Ziarah Kubur pada Kuburan Tertentu
Ini bentuk tradisi lain yang terkait dengan ziarah kubur. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang melakukan ziarah kubur pada kuburan-kuburan tertentu seperti kuburan para wali atau orang-orang alim zaman dahulu kala yang dianggap dapat membantu mencarikan jodoh, pekerjaan, menyembuhkan penyakit, dan berbagai kepentingan lainnya.

Mungkin masih banyak lagi tradisi lain yang cukup kuat kaitannya dengan Islam. Tapi dalam tulisan ini saya hanya mampu mencantumkan beberapa tradisi yang saya kenali sebagaimana saya paparkan di atas. Paparan tersebut terbatas pada tradisi-tradisi yang pernah saya lihat dan saya sendiri pernah lakukan di masa lalu.

Kembali ke topik. Saya bukan orang yang ingin menentang tradisi dan menjadi orang aneh di tengah-tengah masyarakat yang mengagungkan tradisi. Walaupun begitu, saya menganggap tradisi adalah tembok penghalang inovasi dan kemauan untuk berpikir lebih jauh. Tradisi sering sering dilakukan dengan didasari oleh kebiasaan orang-orang terdahulu tanpa pernah dicari tahu asal-usulnya.

Dalam konteks ibadah, tradisi dapat berujung kepada bid'ah. Setahu saya, setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT atau menjadi bagian dari sunnah Rasulullah SAW merupakan bid'ah. Jadi tradisi dalam bentuk ibadah yang tidak didasari Al Quran dan Sunnah Rasulullah termasuk kategori bid'ah.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa cara pandang ini terlalu picik. Memang kenapa kalau kita membiasakan sesuatu yang baik? Apalagi semua tradisi itu memang tidak dilarang. Dalam paragraf di atas, saya sengaja mencetak tebal tulisan "tradisi dalam bentuk ibadah" untuk menegaskan bahwa bid'ah itu hanya berlaku untuk ibadah.

Ibadah harus dilakukan atas perintah Allah atau Rasul-Nya. Hal ini dapat diartikan bahwa beribadah itu hukumnya haram kecuali diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bila dibandingkan dengan aturan hubungan antara sesama manusia, maka akan terlihat jelas perbedaannya. Dalam hubungan antara sesama manusia, kita bisa melakukan apa saja kecuali yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi dalam konteks ini, perkataan atau perbuatan apapun halal kecuali dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kembali lagi kepada tradisi dalam bentuk ibadah. Memperbolehkan tradisi semacam ini dengan dasar tidak ada larangannya tentu tidak tepat. Membiasakan sesuatu yang baik adalah sesuatu yang baik juga. Tapi dalam konteks ibadah, tidak boleh ada kebiasaan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Tradisi baik yang dibuat tidak dalam konteks ibadah, selama tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, sebaiknya dipertahankan. Tapi sebagai Muslim yang senantiasa diperintahkan untuk belajar, sebaiknya kita senantiasa mempertimbangkan kembali alasan di balik sebuah tradisi sebaik apa pun tradisi tersebut. Tradisi sering membuat serat inovasi dan membatasi kemauan dan kemampuan berpikir dari para pengikut tradisi tersebut.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95607738/77baa029/TradisiDalamIslam.html

08 Oktober 2008

Islam Keturunan

Apa jawaban Anda bila seseorang mempertanyakan alasan Anda memeluk Islam? Apakah karena orang tua Anda adalah pemeluk Islam? Apakah karena keluarga Anda tidak membiarkan Anda memilih yang lain selain Islam? Apakah karena pekerjaan Anda mengharuskan Anda memeluk Islam? Apakah karena Anda sadar Islam adalah yang benar? Apakah karena Anda sadar bahwa Allah itu nyata?

Saya yakin ada lebih banyak kemungkinan alasan seseorang memeluk Islam. Saya pribadi membedakan alasan-alasan tersebut ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama adalah kelompok tidak sadar Islam. Yang kedua adalah kebalikannya yaitu kelompok sadar Islam.

Kelompok pertama, yaitu kelompok tidak sadar Islam, adalah orang-orang yang memeluk Islam karena situasi dan kondisi di sekitarnya. Kelompok ini memeluk Islam bukan karena dirinya memilih Islam. Situasi dan kondisi di sekitarnya yang membuat mereka memilih Islam. Contohnya adalah Islam yang diturunkan dari orang tuanya, Islam yang dipeluk karena setiap anggota masyarakat di sekitarnya memeluk Islam, Islam yang dipeluk karena calon pasangannya memeluk Islam, dan masih banyak contoh lainnya.

Kelompok kedua, yaitu kelompok sadar Islam, adalah orang-orang yang memeluk Islam karena hati dan pikirannya memilih Islam. Kelompok ini memeluk Islam karena dirinya sadar bahwa Islam itu benar; atau paling benar. Kelompok ini memeluk Islam tanpa dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya.

Saat saya membuat tulisan ini, saya rasa lebih banyak Muslim yang masuk ke dalam kelompok pertama. Hal ini saya kemukakan karena saya semakin yakin umat Muslim saat ini sudah tidak punya kuasa. Saya merasa umat Muslim sedang ada di atas kapal di tengah laut yang berombak besar akibat diterjang badai. Tapi kondisi umat Muslim ini bukan hal yang ingin saya tuangkan dalam tulisan ini.

Kelompok tidak sadar Islam ini memeluk agama Islam tapi tidak sepenuhnya sadar akan tanggung jawab mereka sebagai Muslim untuk terus-menerus belajar Islam. Islam yang mereka tahu adalah Islam yang diturunkan orang tua mereka, Islam yang diajarkan di pelajaran agama Islam di sekolah, Islam yang mereka kenal dari media massa, dan berbagai sumber yang dicekoki ke dalam pikiran mereka.

Kelompok sadar Islam menyadari tanggung jawab mereka untuk memperkaya pengetahuan mereka tentang Islam. Pada dasarnya Islam yang mereka tahu mungkin beririsan dengan Islam yang diketahui oleh kelompok pertama karena sumber pengetahuan mereka bisa jadi sama. Yang menjadi pembeda adalah kelompok sadar Islam tidak sekedar menerima Islam yang disodori ke dalam pikiran mereka. Mereka berpikir kritis dan senantiasa menyadari jalan mereka menuju pemahaman Islam yang menyeluruh masih panjang.

Pada hakikatnya keutamaan dan kemuliaan menjadi seorang Muslim hanya bisa didapat bila orang tersebut memiliki pemahaman terhadap Islam yang menyeluruh. Pemahaman yang menyeluruh tersebut tidak akan pernah bisa didapat bila seorang Muslim tidak menyadari tanggung jawabnya untuk senantiasa mempelajari Islam.

Mempelajari Islam merupakan tanggung jawab setiap Muslim. Islam tidak akan menjadi pedoman hidup yang baik bila Islam tidak dipelajari lebih dalam dan menyeluruh. Kalau Islam dipandang sebatas Rukun Iman dan Rukun Islam saja, maka setiap orang, baik Muslim maupun bukan Muslim, akan kesulitan menemukan keutamaan dan kemuliaan Islam.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kelompok tidak sadar Islam adalah salah. Biar Allah yang menjadi hakim untuk masalah ini. Saya pribadi tetap bersyukur bila seseorang memeluk agama Islam tanpa ada embel-embel sadar atau tidak sadar Islam. Saya rasa cukup bila seorang Muslim meyakini Rukun Iman dan melaksanakan Rukun Islam, tapi Islam tidak akan pernah menjadi rahmat bagi diri seorang Muslim bila hanya dipahami sebatas itu saja. Sudah waktunya bagi kita semua untuk berhenti terbawa arus dan mulai berenang untuk menentukan arah hidup kita sebagai Muslim.

Tulisan terkait:
Apa itu Islam?
Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95608490/d9ab6e9e/IslamKeturunan.html

08 September 2008

Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat

Sepertinya tidak sedikit orang yang melihat Islam sebatas Rukun Islam saja. Jadi tidak sedikit orang yang menganggap Islam hanya dibentuk dari lima hal yaitu mengucap syahadat, melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, dan melaksanakan haji jika mampu.

Sebenarnya masih ada Rukun Iman yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab yang diturunkan Allah, kepada rasul-rasul Allah, kepada hari akhir (kiamat), serta kepada qadha dan qadar. Tapi kelihatannya perhatian terhadap Rukun Iman tidak terlalu besar seperti halnya terhadap Rukun Islam. Terus terang saya sendiri tidak terlalu hafal urutan Rukun Iman.

Sejauh pemahaman saya, keduanya tidak bisa terlepaskan antara satu dan lainnya. Keyakinan sebaiknya direfleksikan dengan amal. Amal itu sendiri merupakan cermin sedalam apa keyakinan seseorang. Mengamalkan Rukun Islam tanpa didasari Rukun Iman pada akhirnya menjadikan Islam berisi pedoman ibadah ritual semata.

Jauh sebelum saya mengenal Islam, saya merupakan bagian dari orang-orang yang (terpaksa) mengamalkan Rukun Islam dan cukup hafal Rukun Iman. Tidak ada satu pun sifat dan perbuatan saya yang mencerminkan bahwa diri saya seorang Muslim kecuali saat saya shalat, puasa, dan membayar zakat. Pada saat itu (hingga saat ini) saya masih belum mampu melaksanakan haji. Saat itu saya menganggap menjadi seorang Muslim memang hanya berarti seorang manusia yang melaksanakan shalat, puasa, dan membayar zakat.

Setelah saya mengenal Islam, saya mulai menyadari bagaimana Islam dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Saya mulai mengetahui bagaimana Islam dapat membawa ketentraman bagi setiap manusia terlepas dari apakah manusia itu Muslim atau bukan Muslim.

Ambil saja contoh sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari rasa sayangnya. Setiap manusia dijanjikan rezeki yang kenikmatan. Hal ini tentunya terkait dengan beberapa faktor seperti usaha yang dilakukan manusia terkait. Tapi Allah tidak membeda-bedakan dalam memberi rezeki. Tapi kasih-Nya hanya ditujukan pada orang-orang tertentu. Mereka yang beriman kepada diri-Nya dan melakukan amal shaleh yang pantas mendapat kasih-Nya. Salah satu bentuk kasih Allah itu adalah imbalan kenikmatan abadi yang dijanjikan-Nya.

Saat saya belajar dari sifat Allah tersebut, saya menyadari bahwa menjadi seorang Muslim harus berlaku adil tanpa melihat apakah orang lain itu Muslim atau bukan. Tapi rasa kasih seorang Muslim ditujukan terutama kepada sesama Muslim.

Sifat tersebut hampir mirip dengan bagaimana kita menyikapi keluarga. Misalkan anak kita berkelahi dengan anak orang lain. Kita jangan serta merta membela anak kita tanpa mau mendengarkan penjelasan anak orang lain itu. Kalau memang anak kita yang salah, maka kita harus menerima kenyataan itu. Tapi bila anak kita sakit, tentu kita akan mendahulukan pengobatan anak kita walaupun kita tahu ada anak orang lain yang juga sakit.

Masih banyak contoh lain yang bisa saya kemukakan. Tapi sebaiknya saya tuangkan dalam tulisan-tulisan lain. Untuk saat ini saya hanya ingin menekankan persepsi saya bahwa Islam itu lebih dari sekedar shalat, puasa, dan zakat. Islam tidak akan menjadi Islam kalau semua Muslim hanya berhenti di shalat, puasa, dan zakat.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95611077/9e2d1855/LebihDariSekedarShalatPuasaDanZakat.html

01 September 2008

Apa itu Islam?

Saya yakin ada lebih dari satu jawaban untuk pertanyaan tersebut. Apalagi setelah tragedi pembajakan beberapa buah pesawat pada tanggal 11 September 2001. Peristiwa itu berujung dengan tabrakan besar pada gedung World Trade Center dan The Pentagon di Amerika Serikat. Sejak peristiwa itu Islam tidak lagi dipandang sebagai sekedar agama. Islam dipandang sebagai doktrin yang mengajarkan kekerasan. Beberapa opini yang terlontar bahkan menyetarakan Islam dengan propaganda Nazi.

Ternyata dunia ini begitu mudah dipengaruhi. Saya akui skenarionya menakjubkan walau mengorbankan banyak nyawa dan merugikan banyak pihak. Ribuan orang mati di tanah Paman Sam pada peristiwa 11 September tersebut. Negara Adidaya tersebut pun menuding salah satu pemeluk Islam sebagai pelakunya. Berbagai media menyuarakan aspirasi tersebut. Akibat nila setitik, rusak susu sebelangga. Islam pun berubah menjadi agama yang kelam.

Kemarahan dunia telah merusak nama baik Islam. Dan semua itu diakibatkan oleh segelintir orang yang diklaim melakukan aksi teroris atas nama Islam. Banyak dari mereka yang marah sepertinya tidak lagi berkenan untuk melihat lebih jauh tentang Islam. Persepsi mereka terhadap Islam akhirnya dibatasi oleh opini umum dan propaganda media.

Salah satu dari berbagai hal yang saya pelajari dari Islam adalah pengendalian diri. Saya belajar untuk senantiasa bersikap jujur, menjaga amarah, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (bukan hanya dengan sesama Muslim), menahan diri dari melakukan kekerasan, menghargai nyawa manusia, dan berbagai hal lain melalui Islam. Saya tidak pernah melihat Islam sebagai pedoman untuk membunuh manusia yang bukan Muslim. Saya bahkan tidak pernah melihat Islam sebagai ajaran yang mendahulukan kekerasan.

Seiring saya mengenal Islam lebih dalam, saya memang sempat menemukan beberapa ajakan untuk bersikap tegas. Tegas di sini tentunya berbeda dengan keras. Dan sepertinya ajakan untuk bersikap tegas adalah saat Muslim sedang diolok-olok atau dipermainkan. Saat Muslim diserang, saat itu Muslim bertahan atau bahkan balas menyerang. Tapi saya tidak pernah menemukan anjuran untuk membantai orang-orang yang bukan Muslim atau memimpin dengan kekerasan.

Islam sering terlihat brutal karena perilaku orang-orang Muslim itu sendiri. Tapi Islam itu tidak brutal. Orang-orang Muslim bersifat brutal bukan karena mereka memeluk agama Islam. Mereka bersifat brutal karena memang manusia punya sifat dasar untuk bersikap kasar sementara mereka tidak bisa menjadikan Islam sebagai benteng untuk menahan dorongan emosi. Sungguh mengecewakan saat Islam hanya dilihat dari perilaku orang-orang Muslim semata.

Saya sendiri melihat Islam sebagai pedoman hidup. Bagi diri saya Islam bukan sekedar agama yang hanya mengajak saya untuk melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan naik haji jika saya mampu. Bagi diri saya Islam merupakan panduan yang senantiasa saya gunakan dalam menjalani hidup saya sejak bangun pagi sampai tidur malam.

Sampai titik ini, saya tidak merasa diri saya adalah seorang teroris. Hidup saya pun senantiasa fleksibel. Saya tidak merasa diri saya adalah seorang fundamentalis. Islam memang tegas. Tapi ketegasan itu ada tempatnya. Di luar itu yang ditawarkan oleh Islam adalah kemudahan.

Islam adalah pedoman hidup yang baik. Muslim yang tidak memiliki sifat dan sikap yang baik mungkin belum mampu memahami Islam dengan baik sehingga tidak mampu menjadikan Islam sebagai pembawa rahmat bagi hidupnya.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95612440/3ed8d907/ApaItuIslam.html