Islam adalah agama yang komprehensif. Ajarannya meliputi berbagai seluk kehidupan manusia. Mulai dari yang sederhana seperti cara makan sampai yang rumit seperti cara mengemban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, semuanya diajarkan dalam Islam; baik melalui Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.
Islam adalah agama dengan batasan yang fleksibel. Setiap Muslim diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu, tapi keringanan diberikan bagi Muslim yang sakit, berhalangan, atau ada dalam perjalanan. Kewajiban untuk shalat tetap berjalan sampai seorang Muslim mati, tapi aturan pelaksanaannya masih manusiawi.
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebebasan bertanggung jawab. Setiap Muslim diperbolehkan melakukan hubungan sosial dengan manusia lain asalkan tetap menjaga aurat dan pandangan. Setiap Muslim diperbolehkan mengikuti bakat dan minatnya asalkan tidak berbenturan dengan ajaran-ajaran Islam.
Islam seharusnya menjadi agama (atau lebih tepatnya pegangan hidup) yang dapat dibanggakan. Setiap Muslim seharusnya bangga menjadi orang-orang yang menjaga aurat, pandangan, syahwat, dan emosi mereka. Setiap Muslim seharusnya bangga menjadi orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab.
Akan tetapi kenyataan di dunia ini sepertinya bertolak belakang. Islam bukan lagi agama yang membanggakan. Bahkan di mata orang-orang bukan beragama Islam, Islam justru terlihat sangat menakutkan. Islam di mata masyarakat pada umumnya lebih dekat kepada fundamentalis, ekstremis, dan teroris.
Ada sebegitu banyak nilai kebajikan (dan kebijakan) yang diajarkan dalam Islam, namun yang terlihat justru Islam yang buruk dan keras. Seolah-olah sudah terbentuk sebuah persepsi umum bahwa semakin dekat seseorang ke dalam Islam, semakin buruk dan keras sifat orang tersebut.
Setiap Muslim yang menolak berjabatan tangan dengan lawan jenis bukan muhrim terlihat aneh. Setiap wanita Muslim yang memakai jilbab panjang terlihat janggal. Setiap pria Muslim dewasa yang tidak merasa nyaman menonton film mesum justru mengundang tawa. Setiap pria Muslim dewasa yang memanjangkan jenggotnya bahkan diolok-olok.
Ada begitu banyak karakter dalam Islam yang akhirnya tidak dapat diterima oleh masyarakat; baik secara eksplisit maupun implisit. Semakin lama semakin sedikit orang yang berani menunjukan identitasnya sebagai seorang Muslim. Kadang karena khawatir tidak mendapatkan pekerjaan, kadang karena khawatir dikucilkan teman dan keluarga, atau berbagai alasan lainnya. Semakin banyak orang yang tidak bangga dengan identitasnya sebagai seorang Muslim.
Pada akhirnya semakin banyak orang-orang yang mengaku beragama Islam tanpa karakter seorang Muslim. Pergaulan bebas (bahkan seks bebas), mempertontonkan aurat, bergunjing, berjudi, mempercayai ramalan, dan berbagai hal lain dilakukan oleh mereka. Hal ini menjadi lebih ironis karena pada saat yang sama orang-orang ini tetap melaksanakan shalat lima waktu (atau mungkin sudah dikurangi menjadi dua atau tiga waktu saja?).
Hilangnya rasa kebanggaan sebagai seorang Muslim tentunya didorong oleh banyak faktor. Masyarakat pada umumnya melihat ke arah barat sebagai suri teladan mereka. Negara-negara barat jelas-jelas dipandang lebih tinggi oleh masyarakat pada umumnya. Cara menghias diri, cara berpakaian, cara bekerja, cara bersenang-senang, dan berbagai pola hidup masyarakat barat diteladani; termasuk produk keluaran negara-negara barat itu.
Cara meneladani negara barat itu mudah. Setiap orang dapat melihat gaya hidup orang-orang di negara barat itu melalui televisi. Stasiun televisi lokal saat ini tidak hanya menyiarkan acara-acara dari negara-negara lain, tapi juga mengadopsi atau bahkan membuat versi sendiri dari acara-acara itu. Sampai-sampai banyak pihak menganggap stasiun televisi negara ini tidak lagi memiliki kreatifitas yang memadai.
Televisi memang memiliki andil yang besar dalam mencitrakan kriteria seorang Muslim yang baik di negara Indonesia ini. Pemberitaan mengenai kekerasan umat Islam ditambah minimnya ekspos terhadap kebaikan dalam Islam membuat orang berpikir berpuluh-puluh kali sebelum mendekat lebih jauh ke arah Islam. Yang lebih ironis lagi adalah kebanyakan orang memilih menjadikan sinetron religi (tapi tidak religius) sebagai tolok ukur karakter seorang Muslim.
Akhirnya semakin banyak orang Muslim yang tidak berbeda dengan orang yang bukan Muslim. Shalat wajib dilakukan kalau sempat (dan kalau ingat), bergaul tanpa melihat batas muhrim atau non-muhrim, makan-minum sambil berdiri (dan menggunakan tangan kiri), seks bebas menjadi masalah privasi (dan bukan masalah dosa), taruhan menjadi masalah sepele, takdir Allah SWT disandingkan dengan ramalan (oleh manusia, binatang, bahkan benda mati), dan daftar ini pun terus berlanjut.
Oleh karena itu, saya rasa pantas bila timbul pertanyaan apakah menjadi Muslim itu sebuah kebanggaan atau sebaliknya justru memalukan. Memang tidak semua orang sungkan atau bahkan malu menjadi seorang Muslim yang komprehensif, tapi berapa banyak orang-orang yang bangga ini bila dibandingkan dengan orang-orang yang merasa sebaliknya? Semoga kita bisa tetap bangga menjadi Muslim.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/document/rI7ousaG/MenjadiMuslimBanggaAtauSungkan.html
Tampilkan postingan dengan label Karakter Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karakter Muslim. Tampilkan semua postingan
16 Juli 2010
30 Juni 2010
Perbedaan Kecil
Menyempatkan diri untuk shalat wajib di awal waktu
/Shalat wajib di awal waktu kalau sempat
Menyisakan uang untuk bersedekah
/Bersedekah bila ada uang sisa
/Bersedekah bila ada uang sisa
Mengharuskan diri untuk hidup jujur
/Hidup jujur hanya bila diharuskan
/Hidup jujur hanya bila diharuskan
Hidup untuk memberikan manfaat
/Hidup untuk mengeruk manfaat
/Hidup untuk mengeruk manfaat
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)
20 April 2010
Hidup Dalam Kerangka Manfaat
Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat. Prinsip ini tercantum dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain,” yang diriwayatkan oleh Bukhari. Prinsip hidup ini merupakan prinsip dasar yang perlu kita terapkan dalam hidup kita untuk mencapai kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dengan hidup bermanfaat, kemuliaan akan dengan mudah dicapai. Selain ditegaskan oleh Rasulullah melalui hadits di atas, hal ini pun dapat dilihat secara jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang memberi sudah jelas lebih mulia dibandingkan orang yang menerima. Apalagi kalau yang diberikan itu adalah manfaat, maka derajat kemuliaan yang didapatkan tentu akan lebih tinggi.
Dengan memberikan manfaat, hidup pun tidak akan menjadi sia-sia. Seseorang yang mengisi hidupnya dengan memberikan manfaat sama saja dengan memberikan nilai pada diri dan hidupnya. Untuk setiap manfaat yang diberikan kepada orang lain akan mendatangkan sejumlah nilai pada diri dan hidup seseorang. Semakin banyak manfaat yang diberikan, semakin bernilai diri dan hidup seseorang. Nilai pada diri dan hidup seseorang itu akan datang terlepas kepada siapa atau ke mana manfaat yang diberikan. Oleh karena itu, hidup orang yang senantiasa memberikan manfaat itu tidak akan sia-sia.
Dengan memiliki hidup yang bernilai, mencapai kebahagiaan akan menjadi lebih mudah. Seseorang akan lebih mudah puas dengan hidupnya walau banyak tujuan hidupnya yang tidak tercapai. Walau tujuan hidup tidak tercapai, seseorang akan lebih mudah menerima kegagalannya. Hal ini disebabkan kegagalan itu jauh dari kesia-siaan karena dalam prosesnya, orang itu senantiasa menjadikan hidupnya bernilai dengan memberikan manfaat.
Jaminan kebahagiaan di akhirat juga akan lebih mudah tercapai karena dengan memberikan manfaat sama saja dengan mengumpulkan amal kebaikan untuk diri sendiri. Selain memberi nilai bagi kehidupan di dunia, memberikan manfaat kepada orang lain juga menambah berat timbangan kebaikan. Kebaikan yang diberikan kepada orang lain lewat manfaat itu pada akhirnya akan membawa kebaikan bagi diri orang yang memberikan manfaat.
Sayangnya banyak orang yang lupa akan hal ini dan memilih hidup mengejar tujuan-tujuan yang fana. Bola kehidupannya digulirkan ke arah tujuan-tujuan tersebut. Kadang tujuan hidupnya tercapai, kadang meleset. Keberhasilan bernilai sebatas pencapaian tujuan tanpa terlalu melihat prosesnya. Kegagalan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan karena proses yang dilalui untuk menggapai tujuan itu dianggap sia-sia. Kebahagiaan di dunia menjadi lebih sulit dicapai. Jaminan kebahagiaan di akhirat pun bergerak menjauh dari harapan.
Manusia memang punya kecenderungan untuk memikirkan dirinya sendiri. Semakin besar kecenderungan ini, semakin rendah tingkat kepedulian terhadap lingkungan dan orang lain di sekitarnya. Rendahnya tingkat kepedulian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya manfaat yang akan diberikan oleh seseorang. Orang dengan kecenderungan mementingkan diri sendiri yang tinggi tidak akan rela menghabiskan waktunya demi orang lain.
Padahal kalau kita kembalikan kepada prinsip memberikan manfaat di atas, semakin banyak manfaat yang kita berikan berarti semakin banyak nilai dan amal kebaikan yang kita kumpulkan. Pada dasarnya menjadi orang yang senantiasa memberikan manfaat sama saja dengan orang yang mengumpulkan banyak nilai dan kebaikan untuk dirinya sendiri. Kalau dilihat dari perspektif ini, orang yang memberikan manfaat pun mementingkan dirinya sendiri. Hanya saja cara mementingkan diri sendirinya berbeda dengan orang yang tidak mau peduli dengan sekitarnya.
Menjadi manfaat sebagai tujuan hidup adalah cara mudah untuk menemukan nilai yang paling jitu karena manfaat sekecil apa pun pasti akan membawa reaksi baik pada hidup kita. Reaksi baik yang dimaksud tentunya tidak berhenti pada kehidupan yang fana ini, tapi juga terus berlanjut hingga mencapai kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/document/I2wGDnxt/HidupDalamKerangkaManfaat.html
Dengan hidup bermanfaat, kemuliaan akan dengan mudah dicapai. Selain ditegaskan oleh Rasulullah melalui hadits di atas, hal ini pun dapat dilihat secara jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang memberi sudah jelas lebih mulia dibandingkan orang yang menerima. Apalagi kalau yang diberikan itu adalah manfaat, maka derajat kemuliaan yang didapatkan tentu akan lebih tinggi.
Dengan memberikan manfaat, hidup pun tidak akan menjadi sia-sia. Seseorang yang mengisi hidupnya dengan memberikan manfaat sama saja dengan memberikan nilai pada diri dan hidupnya. Untuk setiap manfaat yang diberikan kepada orang lain akan mendatangkan sejumlah nilai pada diri dan hidup seseorang. Semakin banyak manfaat yang diberikan, semakin bernilai diri dan hidup seseorang. Nilai pada diri dan hidup seseorang itu akan datang terlepas kepada siapa atau ke mana manfaat yang diberikan. Oleh karena itu, hidup orang yang senantiasa memberikan manfaat itu tidak akan sia-sia.
Dengan memiliki hidup yang bernilai, mencapai kebahagiaan akan menjadi lebih mudah. Seseorang akan lebih mudah puas dengan hidupnya walau banyak tujuan hidupnya yang tidak tercapai. Walau tujuan hidup tidak tercapai, seseorang akan lebih mudah menerima kegagalannya. Hal ini disebabkan kegagalan itu jauh dari kesia-siaan karena dalam prosesnya, orang itu senantiasa menjadikan hidupnya bernilai dengan memberikan manfaat.
Jaminan kebahagiaan di akhirat juga akan lebih mudah tercapai karena dengan memberikan manfaat sama saja dengan mengumpulkan amal kebaikan untuk diri sendiri. Selain memberi nilai bagi kehidupan di dunia, memberikan manfaat kepada orang lain juga menambah berat timbangan kebaikan. Kebaikan yang diberikan kepada orang lain lewat manfaat itu pada akhirnya akan membawa kebaikan bagi diri orang yang memberikan manfaat.
Sayangnya banyak orang yang lupa akan hal ini dan memilih hidup mengejar tujuan-tujuan yang fana. Bola kehidupannya digulirkan ke arah tujuan-tujuan tersebut. Kadang tujuan hidupnya tercapai, kadang meleset. Keberhasilan bernilai sebatas pencapaian tujuan tanpa terlalu melihat prosesnya. Kegagalan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan karena proses yang dilalui untuk menggapai tujuan itu dianggap sia-sia. Kebahagiaan di dunia menjadi lebih sulit dicapai. Jaminan kebahagiaan di akhirat pun bergerak menjauh dari harapan.
Manusia memang punya kecenderungan untuk memikirkan dirinya sendiri. Semakin besar kecenderungan ini, semakin rendah tingkat kepedulian terhadap lingkungan dan orang lain di sekitarnya. Rendahnya tingkat kepedulian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya manfaat yang akan diberikan oleh seseorang. Orang dengan kecenderungan mementingkan diri sendiri yang tinggi tidak akan rela menghabiskan waktunya demi orang lain.
Padahal kalau kita kembalikan kepada prinsip memberikan manfaat di atas, semakin banyak manfaat yang kita berikan berarti semakin banyak nilai dan amal kebaikan yang kita kumpulkan. Pada dasarnya menjadi orang yang senantiasa memberikan manfaat sama saja dengan orang yang mengumpulkan banyak nilai dan kebaikan untuk dirinya sendiri. Kalau dilihat dari perspektif ini, orang yang memberikan manfaat pun mementingkan dirinya sendiri. Hanya saja cara mementingkan diri sendirinya berbeda dengan orang yang tidak mau peduli dengan sekitarnya.
Menjadi manfaat sebagai tujuan hidup adalah cara mudah untuk menemukan nilai yang paling jitu karena manfaat sekecil apa pun pasti akan membawa reaksi baik pada hidup kita. Reaksi baik yang dimaksud tentunya tidak berhenti pada kehidupan yang fana ini, tapi juga terus berlanjut hingga mencapai kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/document/I2wGDnxt/HidupDalamKerangkaManfaat.html
17 September 2009
101 Alasan Memilih Islam
Islam adalah pedoman hidup dan bukan sekedar agama. Islam tidak hanya berurusan dengan ibadah ritual, tapi juga terkait erat dengan kehidupan sosial. Ajarannya yang menyeluruh ini yang menegaskan bahwa Islam bukan sekedar agama yang terpisah dari urusan duniawi. Bila seseorang mengikuti ajaran, maka orang itu memiliki kesempatan untuk mempraktekan apa yang ia pelajari di dalam Masjid dan di tengah-tengah masyarakat. Islam mengajarkan banyak hal tentang aturan dan tata cara beribadah kepada Allah SWT. Hal ini menjadi penting karena ibadah pada dasarnya ibadah bersifat haram kecuali memang benar-benar diperintahkan oleh Allah dan menjadi sunnah Rasullullah SAW. Islam juga mengajarkan banyak hal tentang hidup bermasyarakat karena pada dasarnya segala sesuatunya dalam hidup bermasyarakat adalah halal kecuali yang dilarang oleh Allah SWT maupun dilarang oleh Rasulullah SAW.
Sungguh sangat disayangkan bila pedoman hidup itu diikuti tanpa keyakinan yang kuat akan kebenarannya. Atas alasan ini saya tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa setiap Muslim (orang yang memeluk Islam) perlu menegaskan kembali keyakinan mereka akan kebenaran Islam.
Penegasan kembali itu dapat dimulai dengan pertanyaan "Kenapa saya memilih Islam?" Untuk selanjutnya kita sendiri harus menjawab pertanyaan ini sesuai dengan keyakinan kita apa adanya. Sebagian orang mungkin menjawab pertanyaan itu dengan "Karena kakek, nenek, ayah, ibu, om, tante, abang, kakak, dan semua keluarga yang saya kenal memeluk Islam."
Sebagian lain mungkin telah mendapatkan kesempatan untuk melihat mukjizat yang membuat mereka yakin bahwa Allah itu ada. Sebagian lain mungkin menegaskan bahwa pilihan mereka pada Islam adalah karena karunia Allah itu sendiri. Sebagian lain mungkin akan memberikan alasan yang jauh berbeda dibanding contoh-contoh tersebut.
Sebagian lain mungkin lebih memilih alasan-alasan yang bersifat ilmiah, yaitu alasan-alasan yang dapat didukung dengan logika berpikir manusia. Alasan-alasan ini mungkin terkait dengan keajaiban-keajaiban yang ditemukan dalam diri manusia itu sendiri atau lewat fenomena-fenomena yang timbul di alam semesta ini.
Variasi dari masing-masing alasan itu pun bisa jadi tidak sedikit. Saya yakin justru terlalu banyak bila harus dibeberkan satu per satu dalam tulisan. Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan bentuk lisan (atau tulisan) dari alasan-alasan itu. Yang perlu diperhatikan adalah sekuat apa fondasi keyakinan yang dibentuk oleh masing-masing alasan tersebut.
Entah itu karena nenek moyang, karena alasan ilmiah, karena mukjizat, karena petunjuk dan karunia Allah, tetap saja yang paling penting adalah kekuatan fondasi keimanan yang dibentuk alasan tersebut. Menganggap alasan yang satu lebih lemah ketimbang alasan yang lain pun sebenarnya tidak layak untuk dilakukan karena kekuatan sebuah alasan terkait erat dengan kondisi orang yang bersangkutan.
Jangan sampai usaha kita untuk menegaskan keimanan ini malah berbalik membuat kita kehilangan pijakan. Setiap manusia memiliki karakteristik kemampuan berpikir masing-masing. Oleh karena itu jangan sampai kita disibukan dengan memikirkan (atau bahkan membuat-buat) alasan-alasan tanpa memikirkan kekuatan fondasi keimanan kita. Fokus kita dalam mempertanyakan keyakinan kita tidak lain untuk memperkuat keyakinan kita itu sendiri.
Tulisan terkait:
Kenapa Anda Memilih Islam?
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135011822/48de80d4/101AlasanMemilihIslam.html
10 September 2009
Kenapa Anda Memilih Islam?
Yakinkah kamu akan kebenaran Islam? Apakah kamu yakin bahwa Islam itu agama yang paling benar? Kalau Islam itu memang yang PALING benar, apakah itu artinya agama selain Islam bisa jadi benar, cukup benar, agak benar, atau memiliki derajat kebenaran tersendiri?
Pernahkah kita mempertanyakan Islam yang bertahun-tahun kita anut? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran Allah sebagai Sang Pencipta? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran isi Al Quran dan Al Hadits? Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan kita di dunia ini?
Entah berapa tahun kita sudah hidup di dunia ini, seberapa sering kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang kita yakini? Hidup kita sudah diisi oleh rutinitas, kebiasaan, kebudayaan, dan berbagai embel-embel lainnya. Apakah semua itu memang perlu kita lakukan? Yakinkah kita bahwa hidup kita sudah diisi oleh hal-hal yang MEMANG kita yakini sebagai kebenaran?
Kita kembali kepada konteks keimanan. Setiap orang yang beragama tentu mempercayai bahwa agama yang dia peluk adalah agama yang benar -atau paling tidak yang PALING benar. Sayangnya kerap kali fondasi keimanan itu tidak kuat sehingga orang yang beragama itu tidak lagi mengikuti agama yang dia yakini. Kadang orang tersebut dengan mudahnya berpindah agama. Paling tidak tanpa fondasi yang kuat, keimanan seseorang akan mudah goncang akibat pengaruh eksternal.
Apa fondasi keimanan Anda? Apa yang menjadi dasar Anda memilih Islam? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan kita? Pernahkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini timbul dalam pikiran dan hati Anda?
Wajar memang kalau fondasi keimanan kita tidak jauh dari alasan keturunan dan tradisi. Tidak sedikit orang yang sudah hidup puluhan tahun hanya mengacu pada keturunan atau tradisi semata. Memang sebenarnya masalah ini adalah bagian dari masalah besar pola pendidikan kita, tapi bukan berarti kita harus terus seperti itu sampai kita mati.
Islam memang menuntut kita untuk patuh, tapi kepatuhan itu sepantasnya dikuatkan oleh pemahaman terhadap hal yang harus kita patuhi. Kepatuhan tanpa pemahaman yang cukup (umumnya disebut dengan istilah Taklid Buta) akan berujung pada hasil yang buruk. Taklid buta akan membuat seseorang menjadi keras kepala karena sulit membuka pikirannya untuk menerima pendapat orang lain.
Taklid buta mungkin terlihat sebagai manifestasi dari tingkat kepatuhan yang kuat. Akan tetapi bagian dalam dari kepatuhan yang kuat itu sebenarnya rapuh. Bila dihadapkan dengan kondisi atau argumen yang tepat mengenai bagian rapuh itu, taklid buta menjadi mudah untuk ditumbangkan.
Keberhasilan kita untuk memahami Islam, memahami perintah Allah dalam Al Quran, dan memahami ajaran Rasulullah lewat Hadits akan memperkokoh keimanan kita. Kita memiliki kemampuan untuk mementalkan pertanyaan-pertanyaan yang menggoncang dan pada akhirnya menghancurkan keimanan kita.
Bila datang lagi pertanyaan tentang alasan Anda memilih Islam, Anda tidak lagi ragu dengan jawaban Anda. Keyakinan itu sudah mantap di hati karena Anda tahu dan Anda PAHAM bahwa apa yang Anda yakini itu adalah yang benar dan bukan sekedar yang PALING benar.
Tulisan terkait:
Apa itu Islam?
Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat
Islam Keturunan
Toleransi dalam Islam
Toleransi untuk Tradisi
Toleransi, Bukan Aliansi
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135008625/9c4c5e47/KenapaAndaMemilihIslam.html
Pernahkah kita mempertanyakan Islam yang bertahun-tahun kita anut? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran Allah sebagai Sang Pencipta? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran isi Al Quran dan Al Hadits? Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan kita di dunia ini?
Entah berapa tahun kita sudah hidup di dunia ini, seberapa sering kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang kita yakini? Hidup kita sudah diisi oleh rutinitas, kebiasaan, kebudayaan, dan berbagai embel-embel lainnya. Apakah semua itu memang perlu kita lakukan? Yakinkah kita bahwa hidup kita sudah diisi oleh hal-hal yang MEMANG kita yakini sebagai kebenaran?
Kita kembali kepada konteks keimanan. Setiap orang yang beragama tentu mempercayai bahwa agama yang dia peluk adalah agama yang benar -atau paling tidak yang PALING benar. Sayangnya kerap kali fondasi keimanan itu tidak kuat sehingga orang yang beragama itu tidak lagi mengikuti agama yang dia yakini. Kadang orang tersebut dengan mudahnya berpindah agama. Paling tidak tanpa fondasi yang kuat, keimanan seseorang akan mudah goncang akibat pengaruh eksternal.
Apa fondasi keimanan Anda? Apa yang menjadi dasar Anda memilih Islam? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan kita? Pernahkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini timbul dalam pikiran dan hati Anda?
Wajar memang kalau fondasi keimanan kita tidak jauh dari alasan keturunan dan tradisi. Tidak sedikit orang yang sudah hidup puluhan tahun hanya mengacu pada keturunan atau tradisi semata. Memang sebenarnya masalah ini adalah bagian dari masalah besar pola pendidikan kita, tapi bukan berarti kita harus terus seperti itu sampai kita mati.
Islam memang menuntut kita untuk patuh, tapi kepatuhan itu sepantasnya dikuatkan oleh pemahaman terhadap hal yang harus kita patuhi. Kepatuhan tanpa pemahaman yang cukup (umumnya disebut dengan istilah Taklid Buta) akan berujung pada hasil yang buruk. Taklid buta akan membuat seseorang menjadi keras kepala karena sulit membuka pikirannya untuk menerima pendapat orang lain.
Taklid buta mungkin terlihat sebagai manifestasi dari tingkat kepatuhan yang kuat. Akan tetapi bagian dalam dari kepatuhan yang kuat itu sebenarnya rapuh. Bila dihadapkan dengan kondisi atau argumen yang tepat mengenai bagian rapuh itu, taklid buta menjadi mudah untuk ditumbangkan.
Keberhasilan kita untuk memahami Islam, memahami perintah Allah dalam Al Quran, dan memahami ajaran Rasulullah lewat Hadits akan memperkokoh keimanan kita. Kita memiliki kemampuan untuk mementalkan pertanyaan-pertanyaan yang menggoncang dan pada akhirnya menghancurkan keimanan kita.
Bila datang lagi pertanyaan tentang alasan Anda memilih Islam, Anda tidak lagi ragu dengan jawaban Anda. Keyakinan itu sudah mantap di hati karena Anda tahu dan Anda PAHAM bahwa apa yang Anda yakini itu adalah yang benar dan bukan sekedar yang PALING benar.
Tulisan terkait:
Apa itu Islam?
Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat
Islam Keturunan
Toleransi dalam Islam
Toleransi untuk Tradisi
Toleransi, Bukan Aliansi
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135008625/9c4c5e47/KenapaAndaMemilihIslam.html
12 Juni 2009
Penjajahan Terselubung
Penjajahan terselubung dapat kita lihat dengan jelas dalam kehidupan masyarakat sekitar kita. Kenapa saya mengatakan penjajahan terselubung? Karena tidak sedikit anggota masyarakat, bahkan mungkin saya sendiri, yang tanpa sadar mengiyakan informasi yang kita ketahui tanpa pertimbangan lebih lanjut. Jalan hidup mereka ditentukan oleh pihak lain tanpa mereka sadari.
Coba kita perhatikan. Kita senang sekali mengikuti perkembangan selebriti, baik internasional, nasional, maupun lokal. Menjadi seorang penyanyi dalam acara bakat pun menjadi mimpi banyak orang. Pilihan pakaian harus mengikuti model terbaru. Pergaulan kita pun tidak jauh dengan apa yang sering kita lihat dari para selebriti.
Media, terutama televisi, menjadi corong utama informasi. Hal ini mungkin baik tapi sayangnya tidak sedikit dari kita yang menerima begitu saja informasi yang diberikan media. Kita bahkan ikut menyebarkan informasi tersebut seolah-olah informasi itu adalah yang paling benar.
Hidup kita ibarat diatur oleh orang lain. Walaupun kita berhak menentukan pilihan kita, pilihan-pilihan tersebut tetap saja terbatas. Sayangnya batasan-batasan dalam memilih itu ada karena kita sendiri yang tanpa kesadaran berkenan menerimanya. Yang lebih disayangkan lagi adalah mereka yang sadar pun terpaksa mengikuti batasan-batasan itu.
Saya yakin Anda pasti bingung dengan paparan di atas. Saya coba berikan contoh. Di kalangan remaja saat ini sepertinya pergaulan antara pria dan wanita sudah tidak mengenal batas. Kita tidak perlu bicara terlalu jauh sampai seks bebas. Contoh sederhananya mungkin cipika-cipiki-cicibi (Cium Pipi Kanan, Cium Pipi Kiri, Cium-cium Bibir), bergandengan tangan, atau berpelukan.
Bagaimana para remaja mengenal berbagai kebiasaan itu? Semua pasti ada sumbernya. Entah dari film-film di televisi, informasi gaul dari Internet, bisik-bisik tetangga, atau dari artikel dalam majalah berjudul "11 cara bergaul yang gaul". Maaf kalau saya mulai ngelantur. Memberi contoh adalah hal yang cukup sulit untuk saya lakukan.
Kembali ke topik. Intinya informasi itu sudah sampai kepada para remaja. Akhirnya mereka pun berpikir betapa tidak gaulnya mereka kalau mereka tidak menerapkan itu dalam pergaulan mereka. Tanpa pertimbangan lebih lanjut banyak remaja yang akhirnya terbiasa berpelukan dengan lawan jenis. Lalu bagaimana nasib mereka yang "tidak gaul"? Mereka akan dicemooh atau bahkan dikucilkan. Yang bertahan untuk tetap tidak gaul akan hilang dari sejarah sementara.
Itu hanya contoh kecil penjajahan terselubung. Skala yang sedikit lebih besar misalnya kecenderungan kita untuk membeli produk luar negeri. Pola belanja kita tidak berorientasi kepada fungsi, tapi lebih berorientasi kepada merek. Di sini harga diri lebih banyak bermain ketimbang rasa membutuhkan.
Bentuk penjajahan yang lebih besar lagi adalah ketidakmampuan kita untuk mempertahankan harga diri bangsa secara tegas seperti menyikapi serangan Israel ke Palestina, menyikapi kebijakan-kebijakan IMF, atau menarik garis tebal perbatasan RI di wilayah Ambalat.
Remaja-remaja Indonesia juga merupakan bibit-bibit unggul. Mereka Sayangnya kebanyakan mereka justru terbuai dengan kehidupan selebriti dan lagu-lagu cinta. Tenaga kerja Indonesia memiliki nilai jual yang tinggi, tapi mereka justru diperlakukan seperti sampah. Sumber daya alam Indonesia melimpah ruah, tapi justru dimanfaatkan untuk memperkaya individu-individu tak bertanggung jawab.
Kita sudah merdeka dan kita punya potensi yang besar untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki dan menjadi bangsa yang terpandang. Sayangnya banyak sekali ketergantungan yang membuat negara ini senantiasa di bawah kuasa negara lain.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/111575929/384be341/PenjajahanTerselubung.html
Coba kita perhatikan. Kita senang sekali mengikuti perkembangan selebriti, baik internasional, nasional, maupun lokal. Menjadi seorang penyanyi dalam acara bakat pun menjadi mimpi banyak orang. Pilihan pakaian harus mengikuti model terbaru. Pergaulan kita pun tidak jauh dengan apa yang sering kita lihat dari para selebriti.
Media, terutama televisi, menjadi corong utama informasi. Hal ini mungkin baik tapi sayangnya tidak sedikit dari kita yang menerima begitu saja informasi yang diberikan media. Kita bahkan ikut menyebarkan informasi tersebut seolah-olah informasi itu adalah yang paling benar.
Hidup kita ibarat diatur oleh orang lain. Walaupun kita berhak menentukan pilihan kita, pilihan-pilihan tersebut tetap saja terbatas. Sayangnya batasan-batasan dalam memilih itu ada karena kita sendiri yang tanpa kesadaran berkenan menerimanya. Yang lebih disayangkan lagi adalah mereka yang sadar pun terpaksa mengikuti batasan-batasan itu.
Saya yakin Anda pasti bingung dengan paparan di atas. Saya coba berikan contoh. Di kalangan remaja saat ini sepertinya pergaulan antara pria dan wanita sudah tidak mengenal batas. Kita tidak perlu bicara terlalu jauh sampai seks bebas. Contoh sederhananya mungkin cipika-cipiki-cicibi (Cium Pipi Kanan, Cium Pipi Kiri, Cium-cium Bibir), bergandengan tangan, atau berpelukan.
Bagaimana para remaja mengenal berbagai kebiasaan itu? Semua pasti ada sumbernya. Entah dari film-film di televisi, informasi gaul dari Internet, bisik-bisik tetangga, atau dari artikel dalam majalah berjudul "11 cara bergaul yang gaul". Maaf kalau saya mulai ngelantur. Memberi contoh adalah hal yang cukup sulit untuk saya lakukan.
Kembali ke topik. Intinya informasi itu sudah sampai kepada para remaja. Akhirnya mereka pun berpikir betapa tidak gaulnya mereka kalau mereka tidak menerapkan itu dalam pergaulan mereka. Tanpa pertimbangan lebih lanjut banyak remaja yang akhirnya terbiasa berpelukan dengan lawan jenis. Lalu bagaimana nasib mereka yang "tidak gaul"? Mereka akan dicemooh atau bahkan dikucilkan. Yang bertahan untuk tetap tidak gaul akan hilang dari sejarah sementara.
Itu hanya contoh kecil penjajahan terselubung. Skala yang sedikit lebih besar misalnya kecenderungan kita untuk membeli produk luar negeri. Pola belanja kita tidak berorientasi kepada fungsi, tapi lebih berorientasi kepada merek. Di sini harga diri lebih banyak bermain ketimbang rasa membutuhkan.
Bentuk penjajahan yang lebih besar lagi adalah ketidakmampuan kita untuk mempertahankan harga diri bangsa secara tegas seperti menyikapi serangan Israel ke Palestina, menyikapi kebijakan-kebijakan IMF, atau menarik garis tebal perbatasan RI di wilayah Ambalat.
Remaja-remaja Indonesia juga merupakan bibit-bibit unggul. Mereka Sayangnya kebanyakan mereka justru terbuai dengan kehidupan selebriti dan lagu-lagu cinta. Tenaga kerja Indonesia memiliki nilai jual yang tinggi, tapi mereka justru diperlakukan seperti sampah. Sumber daya alam Indonesia melimpah ruah, tapi justru dimanfaatkan untuk memperkaya individu-individu tak bertanggung jawab.
Kita sudah merdeka dan kita punya potensi yang besar untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki dan menjadi bangsa yang terpandang. Sayangnya banyak sekali ketergantungan yang membuat negara ini senantiasa di bawah kuasa negara lain.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/111575929/384be341/PenjajahanTerselubung.html
29 Mei 2009
Urusi Kelemahanmu
Saya tergelitik menulis setelah membaca sebuah tulisan tentang bagaimana seseorang sebaiknya fokus kepada kekuatannya ketimbang mengurus kelemahannya. Walaupun konsep itu baik, saya tidak bisa sepenuhnya setuju. Kekuatan dan kelemahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari diri seseorang. Jadi saya rasa setiap orang perlu menentukan keseimbangan antara mengasah kekuatan dan memperbaiki kelemahannya.
Pemikiran saya sebenarnya sederhana. Dalam Islam saya belajar bahwa salah satu pola hidup yang perlu dibiasakan oleh seorang Muslim adalah menuju hari esok yang lebih baik. Kalau konsep ini dibawa ke dalam konteks pengembangan diri, hari esok yang lebih baik berarti kepribadian yang lebih baik di kemudian hari.
Untuk menuju kepribadian yang lebih baik tidak mungkin hanya dengan mengasah kekuatan atau hanya dengan memperbaiki kelemahan. Kepribadian yang lebih baik didapat dengan mengurus keduanya secara bersamaan dengan porsi yang sesuai.
Kita ambil contoh orang cerdas yang malas. Mengasah kecerdasan orang tersebut tanpa memperbaiki perilaku malasnya bisa saja dilakukan. Sebaliknya memperbaiki perilaku malasnya saja pun bisa dilakukan. Tapi saya yakin akan lebih baik kalau dijaga keseimbangan agar orang tersebut menjadi lebih rajin seraya memperluas wawasannya.
Contoh lain ada pada orang yang baru mengenal Islam. Semangatnya dalam mempelajari Islam perlu dipertahankan dan dikembangkan. Tapi apa jadinya seandainya dia punya kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam? Haruskah kebiasaan itu dibiarkan? Kebiasaan itu perlu dikikis sedikit demi sedikit seiring waktu orang itu memperdalam pengetahuannya tentang Islam.
Terlepas dari itu semua, saya paham bahwa ajakan untuk fokus kepada kekuatan itu salah satu alasannya adalah agar orang tidak selalu berkutat dengan kelemahannya. Interaksi yang terlalu sering dengan kelemahan yang dimiliki seseorang dapat menimbulkan rasa rendah diri. Hal ini yang perlu dihindari.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menafikan tujuan tersebut. Tulisan ini dibuat dengan harapan seseorang dapat memiliki keseimbangan yang lebih baik dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga tidak berkutat pada salah satu sisi saja antara kekuatan dan kelemahannya.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/111576727/c7d84ca2/UrusiKelemahanmu.html
Pemikiran saya sebenarnya sederhana. Dalam Islam saya belajar bahwa salah satu pola hidup yang perlu dibiasakan oleh seorang Muslim adalah menuju hari esok yang lebih baik. Kalau konsep ini dibawa ke dalam konteks pengembangan diri, hari esok yang lebih baik berarti kepribadian yang lebih baik di kemudian hari.
Untuk menuju kepribadian yang lebih baik tidak mungkin hanya dengan mengasah kekuatan atau hanya dengan memperbaiki kelemahan. Kepribadian yang lebih baik didapat dengan mengurus keduanya secara bersamaan dengan porsi yang sesuai.
Kita ambil contoh orang cerdas yang malas. Mengasah kecerdasan orang tersebut tanpa memperbaiki perilaku malasnya bisa saja dilakukan. Sebaliknya memperbaiki perilaku malasnya saja pun bisa dilakukan. Tapi saya yakin akan lebih baik kalau dijaga keseimbangan agar orang tersebut menjadi lebih rajin seraya memperluas wawasannya.
Contoh lain ada pada orang yang baru mengenal Islam. Semangatnya dalam mempelajari Islam perlu dipertahankan dan dikembangkan. Tapi apa jadinya seandainya dia punya kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam? Haruskah kebiasaan itu dibiarkan? Kebiasaan itu perlu dikikis sedikit demi sedikit seiring waktu orang itu memperdalam pengetahuannya tentang Islam.
Terlepas dari itu semua, saya paham bahwa ajakan untuk fokus kepada kekuatan itu salah satu alasannya adalah agar orang tidak selalu berkutat dengan kelemahannya. Interaksi yang terlalu sering dengan kelemahan yang dimiliki seseorang dapat menimbulkan rasa rendah diri. Hal ini yang perlu dihindari.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menafikan tujuan tersebut. Tulisan ini dibuat dengan harapan seseorang dapat memiliki keseimbangan yang lebih baik dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga tidak berkutat pada salah satu sisi saja antara kekuatan dan kelemahannya.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/111576727/c7d84ca2/UrusiKelemahanmu.html
24 September 2008
Bohong Putih
Bohong Putih (White Lie) merupakan bentuk kebohongan yang secara umum dipandang sebagai kebohongan yang baik atau yang dibenarkan. Umumnya para pelaku bohong putih menjadikan keterpaksaan sebagai alasan utama mereka. Jadi keterpaksaan telah membenarkan kebohongan yang mereka lakukan.
Sebelumnya saya pernah menulis opini saya tentang kejujuran: Jujur Pangkal Baik. Kejujuran memang pangkal kebaikan. Setiap Muslim yang beriman kepada Allah sudah pasti menjadikan kejujuran sebagai bagian dari kepribadian mereka.
Dalam hadits di atas ditegaskan bahwa dusta (bohong) adalah salah satu dari tiga tanda orang munafik. Sementara orang beriman bukan orang munafik sehingga dusta (bohong) bukan bagian dari kepribadian orang beriman.
Lalu apakah setiap Muslim itu tidak boleh berbohong sama sekali? Tidak sesederhana itu.
Hadits berikutnya cukup gamblang. Rasulullah Saw memperbolehkan berbohong dalam perang. Bagi saya hal ini mudah dimengerti. Larangan berbohong dalam peperangan akan berujung pada kehancuran pihak yang bersikeras bersikap jujur. Jujur dalam peperangan sangat tidak masuk akal.
Berbohong untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa. Sejauh pengertian saya, yang dimaksud dengan mendamaikan ini adalah meredam api kemarahan yang sedang berkobar. Berdasarkan pengalaman saya, masalah lebih mudah diselesaikan bila api kemarahan sudah padam. Orang-orang yang bersengketa memiliki hati dan pikiran yang tenang sehingga dapat melihat masalah dari sudut pandang yang lebih baik.
Selanjutnya bila dikhawatirkan ucapan suami yang benar dapat berakibat buruk, maka suami boleh berdusta kepada istri untuk memelihara kerukunan. Saya pribadi tidak mengambil pilihan ini karena istri saya tidak suka bila saya berdusta. Jadi pahit manisnya perkataan saya lebih baik disampaikan secara terang-terangan kepada istri saya. Hal ini bersifat subjektif terhadap diri saya sendiri.
Kembali ke topik kita; Bohong Putih. Merujuk kepada hadits kedua yang saya kutip di atas, saya sepakat bila Bohong Putih itu dilakukan atas dasar keterpaksaan. Bohong Putih dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar dari kebohongan itu sendiri.
Sayangnya kata "keterpaksaan" itu sering disalahgunakan. Tapi sebelum saya bicara lebih lanjut mengenai penyalahgunaan tersebut, saya paparkan sedikit persepsi saya mengenai Bohong Putih.
Bohong Putih, menurut saya, bukan kebohongan yang dibenarkan melainkan kebohongan yang dimaafkan. Jadi dalam kondisi apa pun bohong adalah sebuah perbuatan yang salah. Bohong tidak pernah menjadi perbuatan yang benar, tapi dalam kondisi-kondisi tertentu Allah memaafkan dan mengampuni dosa mereka yang berbohong. Kondisi-kondisi tertentu itu antara lain seperti yang Rasulullah perbolehkan dalam hadits kedua yang saya kutip di atas.
Kita perlu tegaskan bahwa bohong adalah perbuatan salah dan akan dimaafkan bila memang bohong itu membawa kebaikan lebih ketimbang tidak bohong. Dengan begitu kita tidak terbuai dengan anggapan bahwa ada bohong yang benar (dibenarkan) sehingga membuat kita lebih berani berbohong.
Terus terang sampai saat ini saya tidak pernah menemukan istilah Bohong Putih dalam terminologi Islam. Bohong ditegaskan sebagai perbuatan yang salah, ciri orang munafik, dan tidak pernah dianjurkan dalam Islam. Islam justru mendorong, bahkan mewajibkan, setiap Muslim untuk senantiasa bersikap jujur.
Kita perlu hati-hati bila menggunakan bohong sebagai solusi alternatif. Jangan sampai kita paksakan alasan "keterpaksaan" padahal kita tidak pernah terpaksa untuk berbohong. Keterpaksaan itu sendiri bersifat subjektif. Jadi bukan tidak mungkin kita membuat-buat alasan seolah-olah kita memang terpaksa padahal hati kita sendiri sadar kita tidak terpaksa berbohong.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95609604/b43ca2c5/BohongPutih.html
Sebelumnya saya pernah menulis opini saya tentang kejujuran: Jujur Pangkal Baik. Kejujuran memang pangkal kebaikan. Setiap Muslim yang beriman kepada Allah sudah pasti menjadikan kejujuran sebagai bagian dari kepribadian mereka.
"Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat." (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas ditegaskan bahwa dusta (bohong) adalah salah satu dari tiga tanda orang munafik. Sementara orang beriman bukan orang munafik sehingga dusta (bohong) bukan bagian dari kepribadian orang beriman.
Lalu apakah setiap Muslim itu tidak boleh berbohong sama sekali? Tidak sesederhana itu.
"Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada istrinya." (HR. Ahmad)
Hadits berikutnya cukup gamblang. Rasulullah Saw memperbolehkan berbohong dalam perang. Bagi saya hal ini mudah dimengerti. Larangan berbohong dalam peperangan akan berujung pada kehancuran pihak yang bersikeras bersikap jujur. Jujur dalam peperangan sangat tidak masuk akal.
Berbohong untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa. Sejauh pengertian saya, yang dimaksud dengan mendamaikan ini adalah meredam api kemarahan yang sedang berkobar. Berdasarkan pengalaman saya, masalah lebih mudah diselesaikan bila api kemarahan sudah padam. Orang-orang yang bersengketa memiliki hati dan pikiran yang tenang sehingga dapat melihat masalah dari sudut pandang yang lebih baik.
Selanjutnya bila dikhawatirkan ucapan suami yang benar dapat berakibat buruk, maka suami boleh berdusta kepada istri untuk memelihara kerukunan. Saya pribadi tidak mengambil pilihan ini karena istri saya tidak suka bila saya berdusta. Jadi pahit manisnya perkataan saya lebih baik disampaikan secara terang-terangan kepada istri saya. Hal ini bersifat subjektif terhadap diri saya sendiri.
Kembali ke topik kita; Bohong Putih. Merujuk kepada hadits kedua yang saya kutip di atas, saya sepakat bila Bohong Putih itu dilakukan atas dasar keterpaksaan. Bohong Putih dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar dari kebohongan itu sendiri.
Sayangnya kata "keterpaksaan" itu sering disalahgunakan. Tapi sebelum saya bicara lebih lanjut mengenai penyalahgunaan tersebut, saya paparkan sedikit persepsi saya mengenai Bohong Putih.
Bohong Putih, menurut saya, bukan kebohongan yang dibenarkan melainkan kebohongan yang dimaafkan. Jadi dalam kondisi apa pun bohong adalah sebuah perbuatan yang salah. Bohong tidak pernah menjadi perbuatan yang benar, tapi dalam kondisi-kondisi tertentu Allah memaafkan dan mengampuni dosa mereka yang berbohong. Kondisi-kondisi tertentu itu antara lain seperti yang Rasulullah perbolehkan dalam hadits kedua yang saya kutip di atas.
Kita perlu tegaskan bahwa bohong adalah perbuatan salah dan akan dimaafkan bila memang bohong itu membawa kebaikan lebih ketimbang tidak bohong. Dengan begitu kita tidak terbuai dengan anggapan bahwa ada bohong yang benar (dibenarkan) sehingga membuat kita lebih berani berbohong.
Terus terang sampai saat ini saya tidak pernah menemukan istilah Bohong Putih dalam terminologi Islam. Bohong ditegaskan sebagai perbuatan yang salah, ciri orang munafik, dan tidak pernah dianjurkan dalam Islam. Islam justru mendorong, bahkan mewajibkan, setiap Muslim untuk senantiasa bersikap jujur.
Kita perlu hati-hati bila menggunakan bohong sebagai solusi alternatif. Jangan sampai kita paksakan alasan "keterpaksaan" padahal kita tidak pernah terpaksa untuk berbohong. Keterpaksaan itu sendiri bersifat subjektif. Jadi bukan tidak mungkin kita membuat-buat alasan seolah-olah kita memang terpaksa padahal hati kita sendiri sadar kita tidak terpaksa berbohong.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95609604/b43ca2c5/BohongPutih.html
19 September 2008
Jujur Pangkal Baik
Tidak perlu belajar Islam untuk menyadari betapa pentingnya sebuah kejujuran. Berdasarkan pengalaman hidup saya sampai saat ini, kejujuran adalah pangkal kebaikan. Orang-orang yang hidup dengan jujur adalah orang-orang baik. Tanpa kejujuran sepertinya sulit untuk meraih kebaikan.
Mudah bagi saya untuk mencari contoh. Saya sendiri merasakan dampak kejujuran terhadap hidup saya. Sebelum saya menyadari pentingnya bersikap jujur, saya mudah terjerumus untuk melakukan hal-hal tidak baik. Hal-hal tidak baik ini dapat saya lakukan karena saya mampu berbohong (bersikap tidak jujur). Keberhasilan saya untuk menutupi hal-hal tidak baik yang saya lakukan dengan berbohong membuat saya cenderung untuk mengulangi hal-hal tidak baik yang saya lakukan.
Mencontek mungkin dapat dijadikan contoh dasar. Sampai saya duduk di bangku kelas 3 SMA, mencontek bukan hal tabu. Saya bukan termasuk siswa yang rajin. Umumnya saya mengandalkan contekan untuk menghadapi ujian dalam pelajaran-pelajaran sosial. Saya tidak pernah dipergoki saat saya mencontek jadi saya menjadikan contekan sebagai solusi alternatif untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Saya sendiri tidak ingat kapan pertama kali saya mencontek. Saya yakin saya sudah berkali-kali mencontek saat ujian. Kemampuan saya untuk mencontek dan tidak tertangkap yang membuat saya terus menggunakan contekan. Sikap tidak jujur saya dalam menghadapi ujian justru menjerumuskan saya untuk selalu mencontek. Sikap tidak jujur itu yang membuat saya tidak bisa berhenti mencontek.
Allah Maha Kuasa. Di kelas 3 SMA saya dipergoki mencontek saat ujian pelajaran sejarah. Saya tidak perlu sampaikan cerita rincinya. Intinya peristiwa itu berhasil merubah pandangan saya terhadap mencontek dan bersikap tidak jujur. Satu hal yang pasti, sejak peristiwa itu saya tidak pernah lagi menggunakan contekan di ujian apa pun sampai detik ini. Saya memberanikan diri menerima nilai rendah seandainya saya tidak mempersiapkan diri dengan baik bila menghadapi ujian.
Seingat saya peristiwa itu yang mendorong saya untuk senantiasa bersikap jujur. Bukan hanya pada mencontek, tapi pada berbagai sisi kehidupan saya. Proses perbaikan sikap jujur itu tidak berjalan sekejap mata. Namun saat ini saya bisa bangga pada diri saya sendiri karena saya sudah berusaha semaksimal mungkin menjalani hidup dengan kejujuran.
Kembali kepada topik. Jujur itu pangkal baik. Orang yang jujur akan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari perbuatan tidak baik. Orang jujur yang berbuat tidak baik akan berada pada posisi yang sulit. Kejujuran akan mendorong mereka untuk mengakui perbuatan tidak baik yang mereka lakukan. Oleh karena itu orang jujur akan memilih untuk tidak melakukan perbuatan tidak baik.
Anak yang mengambil uang orang tuanya didasari sikap tidak jujur. Pencurian terjadi akibat sikap tidak jujur. Serah terima uang suap juga didasari sikap tidak jujur. Korupsi yang mengentaskan kesejahteraan pun didasari sikap tidak jujur. Masih banyak contoh perbuatan tidak baik yang tak perlu saya sebutkan. Intinya keberanian untuk bersikap tidak jujur akan mendorong orang untuk melakukan perbuatan tidak baik.
Lalu di mana peran Islam? Ajaran Islam menegaskan bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah wajib bersikap jujur. Hal ini saya tangkap dari isi surat Al Maa'idah ayat 8 yang terjemahannya seperti di bawah ini.
Sepengetahuan saya, ayat di atas adalah salah satu dari sekian banyak penegasan mengenai kewajiban bersikap jujur. Khusus untuk ayat ini, saya menyimpulkan kewajiban bersikap jujur dari kewajiban untuk menegakan kebenaran dan keadilan.
Islam yang memperkenalkan saya pada kewajiban untuk bersikap jujur. Melalui sikap jujur ini saya berharap dapat menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat baik. Menjadi orang baik merupakan salah satu langkah saya untuk menjadi bagian dari orang-orang yang beriman.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95610412/7a884e5/JujurPangkalBaik.html
Mudah bagi saya untuk mencari contoh. Saya sendiri merasakan dampak kejujuran terhadap hidup saya. Sebelum saya menyadari pentingnya bersikap jujur, saya mudah terjerumus untuk melakukan hal-hal tidak baik. Hal-hal tidak baik ini dapat saya lakukan karena saya mampu berbohong (bersikap tidak jujur). Keberhasilan saya untuk menutupi hal-hal tidak baik yang saya lakukan dengan berbohong membuat saya cenderung untuk mengulangi hal-hal tidak baik yang saya lakukan.
Mencontek mungkin dapat dijadikan contoh dasar. Sampai saya duduk di bangku kelas 3 SMA, mencontek bukan hal tabu. Saya bukan termasuk siswa yang rajin. Umumnya saya mengandalkan contekan untuk menghadapi ujian dalam pelajaran-pelajaran sosial. Saya tidak pernah dipergoki saat saya mencontek jadi saya menjadikan contekan sebagai solusi alternatif untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Saya sendiri tidak ingat kapan pertama kali saya mencontek. Saya yakin saya sudah berkali-kali mencontek saat ujian. Kemampuan saya untuk mencontek dan tidak tertangkap yang membuat saya terus menggunakan contekan. Sikap tidak jujur saya dalam menghadapi ujian justru menjerumuskan saya untuk selalu mencontek. Sikap tidak jujur itu yang membuat saya tidak bisa berhenti mencontek.
Allah Maha Kuasa. Di kelas 3 SMA saya dipergoki mencontek saat ujian pelajaran sejarah. Saya tidak perlu sampaikan cerita rincinya. Intinya peristiwa itu berhasil merubah pandangan saya terhadap mencontek dan bersikap tidak jujur. Satu hal yang pasti, sejak peristiwa itu saya tidak pernah lagi menggunakan contekan di ujian apa pun sampai detik ini. Saya memberanikan diri menerima nilai rendah seandainya saya tidak mempersiapkan diri dengan baik bila menghadapi ujian.
Seingat saya peristiwa itu yang mendorong saya untuk senantiasa bersikap jujur. Bukan hanya pada mencontek, tapi pada berbagai sisi kehidupan saya. Proses perbaikan sikap jujur itu tidak berjalan sekejap mata. Namun saat ini saya bisa bangga pada diri saya sendiri karena saya sudah berusaha semaksimal mungkin menjalani hidup dengan kejujuran.
Kembali kepada topik. Jujur itu pangkal baik. Orang yang jujur akan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari perbuatan tidak baik. Orang jujur yang berbuat tidak baik akan berada pada posisi yang sulit. Kejujuran akan mendorong mereka untuk mengakui perbuatan tidak baik yang mereka lakukan. Oleh karena itu orang jujur akan memilih untuk tidak melakukan perbuatan tidak baik.
Anak yang mengambil uang orang tuanya didasari sikap tidak jujur. Pencurian terjadi akibat sikap tidak jujur. Serah terima uang suap juga didasari sikap tidak jujur. Korupsi yang mengentaskan kesejahteraan pun didasari sikap tidak jujur. Masih banyak contoh perbuatan tidak baik yang tak perlu saya sebutkan. Intinya keberanian untuk bersikap tidak jujur akan mendorong orang untuk melakukan perbuatan tidak baik.
Lalu di mana peran Islam? Ajaran Islam menegaskan bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah wajib bersikap jujur. Hal ini saya tangkap dari isi surat Al Maa'idah ayat 8 yang terjemahannya seperti di bawah ini.
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Maa'idah: 8)
Sepengetahuan saya, ayat di atas adalah salah satu dari sekian banyak penegasan mengenai kewajiban bersikap jujur. Khusus untuk ayat ini, saya menyimpulkan kewajiban bersikap jujur dari kewajiban untuk menegakan kebenaran dan keadilan.
Islam yang memperkenalkan saya pada kewajiban untuk bersikap jujur. Melalui sikap jujur ini saya berharap dapat menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat baik. Menjadi orang baik merupakan salah satu langkah saya untuk menjadi bagian dari orang-orang yang beriman.
--
Amir Syafrudin
Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95610412/7a884e5/JujurPangkalBaik.html
Langganan:
Postingan (Atom)
