27 Agustus 2010

Haruskah Kita Menghormati Orang yang Berpuasa?

Terkait dengan bulan Ramadhan, haruskah orang-orang yang tidak berpuasa menghormati orang-orang Islam yang berpuasa dengan tidak makan dan minum di tempat terbuka? Bukankah puasa di bulan Ramadhan itu merupakan kewajiban yang tidak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya? Jadi mengapa tidak orang-orang yang tidak berpuasa itu makan dan minum seperti biasa di bulan Ramadhan ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas menurut saya mengacu kepada peribahasa, "Di situ bumi dipijak, di situ langit dijunjung" atau "When in Rome, do what the Romans do." Menghormati orang-orang Islam yang berpuasa adalah bagian dari kesadaran untuk "menjunjung langit" karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Jadi orang-orang yang tidak berpuasa dan hidup di Indonesia seyogyanya menghormati orang-orang Islam yang berpuasa dengan tidak makan dan minum di tempat umum.

Walaupun begitu, semua tetap dikembalikan kepada "bumi yang dipijak". Kalau kita berada di daerah yang orang-orangnya mayoritas tidak berpuasa, makan dan minum di tempat umum sepertinya tidak akan menjadi masalah. Toh tidak semua daerah di Indonesia ini mayoritas penduduknya beragama Islam.

Perumpamaan dengan peribahasa di atas pada dasarnya merupakan bentuk penghormatan terhadap kelompok mayoritas. Kita ambil contoh rumah ibadah. Apakah pantas orang beragama kristen meneriakan "haleluya" di dalam sebuah masjid? Kemudian apakah pantas orang beragama Islam meneriakan "Allahu Akbar" di dalam sebuah gereja? Kita dapat ambil contoh yang lebih umum. Apakah pantas seseorang masuk kerja menggunakan kaus oblong dan celana jeans? Pada umumnya hal ini tidak pantas, kecuali tempat kerjanya memang memberi kebebasan berpakaian secara penuh kepada karyawannya.

Contoh bentuk penghormatan seperti di atas dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari karena hal ini adalah hal yang berlaku umum dalam masyarakat. Menghormati adat dan kebiasaan golongan mayoritas adalah bagian dari tata krama hidup bermasyarakat. Baik secara sadar maupun tidak sadar, setiap orang akan menjunjung langit tempat kakinya berpijak. Jadi selama bulan Ramadhan ini wajar bila orang-orang yang berpuasa mengharapkan agar orang-orang yang tidak berpuasa tidak makan dan minum di tempat terbuka.

Kalau memang "wajar", kenapa masih saja ada yang mempertanyakan keharusan menghormati orang yang berpuasa? Saya rasa pertanyaan ini ada kaitannya dengan kesewenang-wenangan kelompok mayoritas. Bukan tidak mungkin sebagian orang Islam di negara Indonesia ini merasa dibenarkan untuk memaksakan penghormatan kepada orang-orang yang berpuasa. Alhasil kelompok minoritas, yaitu orang-orang yang tidak berpuasa, merasa tertekan. Penghormatan yang tadinya dibentuk dengan kesadaran semakin lama justru dibentuk dengan keterpaksaan. Rasa terpaksa yang menumpuk itu akhirnya membludak dan orang-orang pun mempertanyakan keharusan untuk menghormati orang-orang Islam yang berpuasa di bulan Ramadhan ini.

Setiap orang berhak dihormati terlepas dari mayoritas atau minoritas. Kalau orang-orang yang berpuasa berhak dihormati, maka orang-orang yang tidak berpuasa pun berhak dihormati. Kalau orang-orang yang tidak berpuasa wajib menghormati, makan orang-orang yang berpuasa pun wajib menghormati. Selama kedua belah pihak saling menjaga rasa hormat antara satu sama lain, maka bulan Ramadhan ini tidak perlu diwarnai dengan polemik makan dan minum di tempat terbuka.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.