15 November 2009

Memahami Zakat Profesi

Sampai saat ini masih banyak perbedaan pendapat mengenai zakat profesi. Tidak hanya di kalangan awam, perbedaan pendapat ini juga terjadi di kalangan para ulama. Saya pribadi mengalami kesulitan memahami bagaimana hukum zakat profesi yang benar. Berhubung zakat adalah masalah ibadah, saya senantiasa berhati-hati dalam melangkah.

Kehati-hatian saya dalam melangkah sempat membawa saya pada titik ekstrim. Saya selalu menyisihkan 2.5% dari setiap rupiah yang saya terima untuk dizakatkan. Uang zakat ini saya kumpulkan di tempat terpisah untuk disalurkan bila waktu penyalurannya sudah tiba. Umumnya saya menunggu satu tahun atau pada kondisi-kondisi khusus seperti bantuan untuk korban bencana alam atau korban perang.

Saat ini saya coba meluruskan kembali pemahaman saya mengenai Zakat Profesi. Hasil berselancar di Internet membawa saya pada kesimpulan bahwa perbedaan pendapat mengenai Zakat Profesi masih ada. Akhirnya saya harus memilih pendapat yang memang sesuai dengan keyakinan saya.

Keyakinan saya setelah membaca berbagai referensi di Internet adalah sebagai berikut:
  1. Kadar (tarif): 2,5% dari penghasilan bersih.
    Yang dimaksud dengan penghasilan bersih adalah penghasilan kotor (gross) dikurangi pengeluaran-pengeluaran pokok.
  2. Nisab (penghasilan bersih tidak kena zakat): kurang dari harga 85 gram emas.
  3. Haul (jatuh tempo): satu tahun Hijriyah sejak pertama kali mendapatkan penghasilan.
Dari tiga hal yang saya tegaskan di atas, perhatian lebih perlu ditempatkan untuk masalah "penghasilan bersih". Dalam konteks zakat, penghasilan bersih adalah penghasilan kotor dikurangi pengeluaran-pengeluaran pokok. Contoh pengeluaran pokok ini antara lain biaya hidup seseorang termasuk tanggungan-tanggungannya, pembayaran cicilan tempat tinggal, atau pembayaran hutang.

Elemen-elemen pengeluaran pokok itu tidak terbatas pada contoh-contoh di atas. Penentuan besaran pengeluaran untuk masing-masing elemen pun diserahkan pada orang yang bersangkutan. Yang perlu diperhatikan adalah setiap orang harus hati-hati menentukan elemen dan besaran pengeluaran pokok tersebut. Jangan sampai kebutuhan yang seharusnya tidak pokok pun dijadikan kebutuhan pokok. Bagi mereka yang ingin berhati-hati, saya sarankan zakat Anda dihitung dari penghasilan kotor saja ketimbang dari penghasilan bersih.

Saya sendiri memiliki kecenderungan untuk menggunakan penghasilan kotor sebagai dasar penghitungan zakat. Kalaupun ada pengeluaran pokok, biasanya saya hanya mencantumkan hutang atau cicilan. Seandainya tidak ada hutang atau cicilan, jumlah zakat yang saya sisihkan adalah 2.5% dari penghasilan kotor.

Misalkan saya menerima gaji sebesar Rp. 4.000.000 per bulan (bebas pajak). Dalam waktu 12 bulan Masehi saya akan menerima gaji sebesar Rp. 48.000.000. Alhamdulillah pada contoh ini saya tidak memiliki hutang atau cicilan. Kalau harga 85 gram emas adalah Rp. 30.000.000, maka saya wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5% x Rp. 48.000.000. Waktu pembayaran adalah setiap satu tahun Hijriyah. Untuk memudahkan diri saya sendiri, saya memilih bulan Ramadhan sebagai waktu mengeluarkan zakat setiap tahun Hijriyah.

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/document/Sx4Woc0F/MemahamiZakatProfesi.html

17 September 2009

101 Alasan Memilih Islam

Islam adalah pedoman hidup dan bukan sekedar agama. Islam tidak hanya berurusan dengan ibadah ritual, tapi juga terkait erat dengan kehidupan sosial. Ajarannya yang menyeluruh ini yang menegaskan bahwa Islam bukan sekedar agama yang terpisah dari urusan duniawi. Bila seseorang mengikuti ajaran, maka orang itu memiliki kesempatan untuk mempraktekan apa yang ia pelajari di dalam Masjid dan di tengah-tengah masyarakat.

Islam mengajarkan banyak hal tentang aturan dan tata cara beribadah kepada Allah SWT. Hal ini menjadi penting karena ibadah pada dasarnya ibadah bersifat haram kecuali memang benar-benar diperintahkan oleh Allah dan menjadi sunnah Rasullullah SAW. Islam juga mengajarkan banyak hal tentang hidup bermasyarakat karena pada dasarnya segala sesuatunya dalam hidup bermasyarakat adalah halal kecuali yang dilarang oleh Allah SWT maupun dilarang oleh Rasulullah SAW.

Sungguh sangat disayangkan bila pedoman hidup itu diikuti tanpa keyakinan yang kuat akan kebenarannya. Atas alasan ini saya tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa setiap Muslim (orang yang memeluk Islam) perlu menegaskan kembali keyakinan mereka akan kebenaran Islam.

Penegasan kembali itu dapat dimulai dengan pertanyaan "Kenapa saya memilih Islam?" Untuk selanjutnya kita sendiri harus menjawab pertanyaan ini sesuai dengan keyakinan kita apa adanya. Sebagian orang mungkin menjawab pertanyaan itu dengan "Karena kakek, nenek, ayah, ibu, om, tante, abang, kakak, dan semua keluarga yang saya kenal memeluk Islam."

Sebagian lain mungkin telah mendapatkan kesempatan untuk melihat mukjizat yang membuat mereka yakin bahwa Allah itu ada. Sebagian lain mungkin menegaskan bahwa pilihan mereka pada Islam adalah karena karunia Allah itu sendiri. Sebagian lain mungkin akan memberikan alasan yang jauh berbeda dibanding contoh-contoh tersebut.

Sebagian lain mungkin lebih memilih alasan-alasan yang bersifat ilmiah, yaitu alasan-alasan yang dapat didukung dengan logika berpikir manusia. Alasan-alasan ini mungkin terkait dengan keajaiban-keajaiban yang ditemukan dalam diri manusia itu sendiri atau lewat fenomena-fenomena yang timbul di alam semesta ini.

Variasi dari masing-masing alasan itu pun bisa jadi tidak sedikit. Saya yakin justru terlalu banyak bila harus dibeberkan satu per satu dalam tulisan. Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan bentuk lisan (atau tulisan) dari alasan-alasan itu. Yang perlu diperhatikan adalah sekuat apa fondasi keyakinan yang dibentuk oleh masing-masing alasan tersebut.

Entah itu karena nenek moyang, karena alasan ilmiah, karena mukjizat, karena petunjuk dan karunia Allah, tetap saja yang paling penting adalah kekuatan fondasi keimanan yang dibentuk alasan tersebut. Menganggap alasan yang satu lebih lemah ketimbang alasan yang lain pun sebenarnya tidak layak untuk dilakukan karena kekuatan sebuah alasan terkait erat dengan kondisi orang yang bersangkutan.

Jangan sampai usaha kita untuk menegaskan keimanan ini malah berbalik membuat kita kehilangan pijakan. Setiap manusia memiliki karakteristik kemampuan berpikir masing-masing. Oleh karena itu jangan sampai kita disibukan dengan memikirkan (atau bahkan membuat-buat) alasan-alasan tanpa memikirkan kekuatan fondasi keimanan kita. Fokus kita dalam mempertanyakan keyakinan kita tidak lain untuk memperkuat keyakinan kita itu sendiri.

Tulisan terkait:
Kenapa Anda Memilih Islam?

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135011822/48de80d4/101AlasanMemilihIslam.html

10 September 2009

Kenapa Anda Memilih Islam?

Yakinkah kamu akan kebenaran Islam? Apakah kamu yakin bahwa Islam itu agama yang paling benar? Kalau Islam itu memang yang PALING benar, apakah itu artinya agama selain Islam bisa jadi benar, cukup benar, agak benar, atau memiliki derajat kebenaran tersendiri?

Pernahkah kita mempertanyakan Islam yang bertahun-tahun kita anut? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran Allah sebagai Sang Pencipta? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran isi Al Quran dan Al Hadits? Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan kita di dunia ini?

Entah berapa tahun kita sudah hidup di dunia ini, seberapa sering kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang kita yakini? Hidup kita sudah diisi oleh rutinitas, kebiasaan, kebudayaan, dan berbagai embel-embel lainnya. Apakah semua itu memang perlu kita lakukan? Yakinkah kita bahwa hidup kita sudah diisi oleh hal-hal yang MEMANG kita yakini sebagai kebenaran?

Kita kembali kepada konteks keimanan. Setiap orang yang beragama tentu mempercayai bahwa agama yang dia peluk adalah agama yang benar -atau paling tidak yang PALING benar. Sayangnya kerap kali fondasi keimanan itu tidak kuat sehingga orang yang beragama itu tidak lagi mengikuti agama yang dia yakini. Kadang orang tersebut dengan mudahnya berpindah agama. Paling tidak tanpa fondasi yang kuat, keimanan seseorang akan mudah goncang akibat pengaruh eksternal.

Apa fondasi keimanan Anda? Apa yang menjadi dasar Anda memilih Islam? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan kita? Pernahkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini timbul dalam pikiran dan hati Anda?

Wajar memang kalau fondasi keimanan kita tidak jauh dari alasan keturunan dan tradisi. Tidak sedikit orang yang sudah hidup puluhan tahun hanya mengacu pada keturunan atau tradisi semata. Memang sebenarnya masalah ini adalah bagian dari masalah besar pola pendidikan kita, tapi bukan berarti kita harus terus seperti itu sampai kita mati.

Islam memang menuntut kita untuk patuh, tapi kepatuhan itu sepantasnya dikuatkan oleh pemahaman terhadap hal yang harus kita patuhi. Kepatuhan tanpa pemahaman yang cukup (umumnya disebut dengan istilah Taklid Buta) akan berujung pada hasil yang buruk. Taklid buta akan membuat seseorang menjadi keras kepala karena sulit membuka pikirannya untuk menerima pendapat orang lain.

Taklid buta mungkin terlihat sebagai manifestasi dari tingkat kepatuhan yang kuat. Akan tetapi bagian dalam dari kepatuhan yang kuat itu sebenarnya rapuh. Bila dihadapkan dengan kondisi atau argumen yang tepat mengenai bagian rapuh itu, taklid buta menjadi mudah untuk ditumbangkan.

Keberhasilan kita untuk memahami Islam, memahami perintah Allah dalam Al Quran, dan memahami ajaran Rasulullah lewat Hadits akan memperkokoh keimanan kita. Kita memiliki kemampuan untuk mementalkan pertanyaan-pertanyaan yang menggoncang dan pada akhirnya menghancurkan keimanan kita.

Bila datang lagi pertanyaan tentang alasan Anda memilih Islam, Anda tidak lagi ragu dengan jawaban Anda. Keyakinan itu sudah mantap di hati karena Anda tahu dan Anda PAHAM bahwa apa yang Anda yakini itu adalah yang benar dan bukan sekedar yang PALING benar.

Tulisan terkait:
Apa itu Islam?
Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat
Islam Keturunan
Toleransi dalam Islam
Toleransi untuk Tradisi
Toleransi, Bukan Aliansi

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/135008625/9c4c5e47/KenapaAndaMemilihIslam.html

12 Juni 2009

Penjajahan Terselubung

Penjajahan terselubung dapat kita lihat dengan jelas dalam kehidupan masyarakat sekitar kita. Kenapa saya mengatakan penjajahan terselubung? Karena tidak sedikit anggota masyarakat, bahkan mungkin saya sendiri, yang tanpa sadar mengiyakan informasi yang kita ketahui tanpa pertimbangan lebih lanjut. Jalan hidup mereka ditentukan oleh pihak lain tanpa mereka sadari.

Coba kita perhatikan. Kita senang sekali mengikuti perkembangan selebriti, baik internasional, nasional, maupun lokal. Menjadi seorang penyanyi dalam acara bakat pun menjadi mimpi banyak orang. Pilihan pakaian harus mengikuti model terbaru. Pergaulan kita pun tidak jauh dengan apa yang sering kita lihat dari para selebriti.

Media, terutama televisi, menjadi corong utama informasi. Hal ini mungkin baik tapi sayangnya tidak sedikit dari kita yang menerima begitu saja informasi yang diberikan media. Kita bahkan ikut menyebarkan informasi tersebut seolah-olah informasi itu adalah yang paling benar.

Hidup kita ibarat diatur oleh orang lain. Walaupun kita berhak menentukan pilihan kita, pilihan-pilihan tersebut tetap saja terbatas. Sayangnya batasan-batasan dalam memilih itu ada karena kita sendiri yang tanpa kesadaran berkenan menerimanya. Yang lebih disayangkan lagi adalah mereka yang sadar pun terpaksa mengikuti batasan-batasan itu.

Saya yakin Anda pasti bingung dengan paparan di atas. Saya coba berikan contoh. Di kalangan remaja saat ini sepertinya pergaulan antara pria dan wanita sudah tidak mengenal batas. Kita tidak perlu bicara terlalu jauh sampai seks bebas. Contoh sederhananya mungkin cipika-cipiki-cicibi (Cium Pipi Kanan, Cium Pipi Kiri, Cium-cium Bibir), bergandengan tangan, atau berpelukan.

Bagaimana para remaja mengenal berbagai kebiasaan itu? Semua pasti ada sumbernya. Entah dari film-film di televisi, informasi gaul dari Internet, bisik-bisik tetangga, atau dari artikel dalam majalah berjudul "11 cara bergaul yang gaul". Maaf kalau saya mulai ngelantur. Memberi contoh adalah hal yang cukup sulit untuk saya lakukan.

Kembali ke topik. Intinya informasi itu sudah sampai kepada para remaja. Akhirnya mereka pun berpikir betapa tidak gaulnya mereka kalau mereka tidak menerapkan itu dalam pergaulan mereka. Tanpa pertimbangan lebih lanjut banyak remaja yang akhirnya terbiasa berpelukan dengan lawan jenis. Lalu bagaimana nasib mereka yang "tidak gaul"? Mereka akan dicemooh atau bahkan dikucilkan. Yang bertahan untuk tetap tidak gaul akan hilang dari sejarah sementara.

Itu hanya contoh kecil penjajahan terselubung. Skala yang sedikit lebih besar misalnya kecenderungan kita untuk membeli produk luar negeri. Pola belanja kita tidak berorientasi kepada fungsi, tapi lebih berorientasi kepada merek. Di sini harga diri lebih banyak bermain ketimbang rasa membutuhkan.

Bentuk penjajahan yang lebih besar lagi adalah ketidakmampuan kita untuk mempertahankan harga diri bangsa secara tegas seperti menyikapi serangan Israel ke Palestina, menyikapi kebijakan-kebijakan IMF, atau menarik garis tebal perbatasan RI di wilayah Ambalat.

Remaja-remaja Indonesia juga merupakan bibit-bibit unggul. Mereka Sayangnya kebanyakan mereka justru terbuai dengan kehidupan selebriti dan lagu-lagu cinta. Tenaga kerja Indonesia memiliki nilai jual yang tinggi, tapi mereka justru diperlakukan seperti sampah. Sumber daya alam Indonesia melimpah ruah, tapi justru dimanfaatkan untuk memperkaya individu-individu tak bertanggung jawab.

Kita sudah merdeka dan kita punya potensi yang besar untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki dan menjadi bangsa yang terpandang. Sayangnya banyak sekali ketergantungan yang membuat negara ini senantiasa di bawah kuasa negara lain.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/111575929/384be341/PenjajahanTerselubung.html

29 Mei 2009

Urusi Kelemahanmu

Saya tergelitik menulis setelah membaca sebuah tulisan tentang bagaimana seseorang sebaiknya fokus kepada kekuatannya ketimbang mengurus kelemahannya. Walaupun konsep itu baik, saya tidak bisa sepenuhnya setuju. Kekuatan dan kelemahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari diri seseorang. Jadi saya rasa setiap orang perlu menentukan keseimbangan antara mengasah kekuatan dan memperbaiki kelemahannya.

Pemikiran saya sebenarnya sederhana. Dalam Islam saya belajar bahwa salah satu pola hidup yang perlu dibiasakan oleh seorang Muslim adalah menuju hari esok yang lebih baik. Kalau konsep ini dibawa ke dalam konteks pengembangan diri, hari esok yang lebih baik berarti kepribadian yang lebih baik di kemudian hari.

Untuk menuju kepribadian yang lebih baik tidak mungkin hanya dengan mengasah kekuatan atau hanya dengan memperbaiki kelemahan. Kepribadian yang lebih baik didapat dengan mengurus keduanya secara bersamaan dengan porsi yang sesuai.

Kita ambil contoh orang cerdas yang malas. Mengasah kecerdasan orang tersebut tanpa memperbaiki perilaku malasnya bisa saja dilakukan. Sebaliknya memperbaiki perilaku malasnya saja pun bisa dilakukan. Tapi saya yakin akan lebih baik kalau dijaga keseimbangan agar orang tersebut menjadi lebih rajin seraya memperluas wawasannya.

Contoh lain ada pada orang yang baru mengenal Islam. Semangatnya dalam mempelajari Islam perlu dipertahankan dan dikembangkan. Tapi apa jadinya seandainya dia punya kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam? Haruskah kebiasaan itu dibiarkan? Kebiasaan itu perlu dikikis sedikit demi sedikit seiring waktu orang itu memperdalam pengetahuannya tentang Islam.

Terlepas dari itu semua, saya paham bahwa ajakan untuk fokus kepada kekuatan itu salah satu alasannya adalah agar orang tidak selalu berkutat dengan kelemahannya. Interaksi yang terlalu sering dengan kelemahan yang dimiliki seseorang dapat menimbulkan rasa rendah diri. Hal ini yang perlu dihindari.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menafikan tujuan tersebut. Tulisan ini dibuat dengan harapan seseorang dapat memiliki keseimbangan yang lebih baik dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga tidak berkutat pada salah satu sisi saja antara kekuatan dan kelemahannya.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/111576727/c7d84ca2/UrusiKelemahanmu.html

29 April 2009

Berani Ikut Undian Berhadiah?

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mendengar pendapat bahwa tidak semua undian berhadiah itu diharamkan dalam Islam. Walaupun begitu, sampai saat ini saya tidak pernah ikut serta dalam undian berhadiah. Saya tidak pernah bisa meyakinkan diri saya sendiri bahwa tidak semua undian berhadiah itu haram.

Saya pun mencoba meluangkan waktu untuk mencari tahu lebih lanjut perihal hukum Islam tentang undian. Dengan bermodalkan mesin pencari Google, saya menemukan banyak tulisan tentang hal ini. Sayangnya banyak di antara sumber-sumber itu sebatas duplikat dari sumber lain. Salah satu sumber membagi undian menjadi 3 (tiga) bagian sebagaimana saya kutip di bawah ini.

Satu : Undian Tanpa Syarat
Bentuk dan contohnya : Di pusat-pusat perbelanjaan, pasar, pameran dan semisalnya sebagai langkah untuk menarik pengunjung, kadang dibagikan kupon undian untuk setiap pengunjung tanpa harus membeli suatu barang. Kemudian setelah itu dilakukan penarikan undian yang dapat disaksikan oleh seluruh pengunjung.
Hukumnya : Bentuk undian yang seperti ini adalah boleh. Karena asal dalam suatu mu’amalah adalah boleh dan halal. Juga tidak terlihat dalam bentuk undian ini hal-hal yang terlarang berupa kezhaliman, riba, gharar,penipuan dan selainnya.

Dua : Undian Dengan Syarat Membeli Barang
Bentuknya : Undian yang tidak bisa diikuti kecuali oleh orang membeli barang yang telah ditentukan oleh penyelenggara undian tersebut.
Contohnya : Pada sebagian supermarket telah diletakkan berbagai hadiah seperti kulkas, radio dan lain-lainnya. Siapa yang membeli barang tertentu atau telah mencapai jumlah tertentu dalam pembelian maka ia akan mendapatkan kupon untuk ikut undian.
Contoh lain : sebagian pereusahaan telah menyiapkan hadiah-hadiah yang menarik seperti Mobil, HP, Tiket, Biaya Ibadah Haji dan selainnya bagi siapa yang membeli darinya suatu produk yang terdapat kupon/kartu undian. Kemudian kupon atau kartu undian itu dimasukkan kedalam kotak-kotak yang telah disiapkan oleh perusahaan tersebut di berbagai cabang atau relasinya.
Hukumnya : undian jenis ini tidak lepas dua dari dua keadaan :
- Harga produk bertambah dengan terselenggaranya undian berhadiah tersebut.
Hukumnya : Haram dan tidak boleh. Karena ada tambahan harga berarti ia telah mengeluarkan biaya untuk masuk kedalam suatu mu’amalat yang mungkin ia untung dan mungkin ia rugi. Dan ini adalah maisir yang diharomkan dalam syariat Islam.
- Undian berhadiah tersebut tidak mempengaruhi harga produk. Perusahaan mengadakan undian hanya sekedar melariskan produknya.
Hukumnya : Ada dua pendapat dalam masalah ini :
1. Hukumnya harus dirinci. Kalau ia membeli barang dengan maksud untuk ikut undian maka ia tergolong kedalam maisir/qimar yang diharamkan dalam syariat karena pembelian barang tersebut adalah sengaja mengeluarkan biaya untuk bisa ikut dalam undian. Sedang ikut dalam undian tersebut ada dua kemungkinan; mungkin ia beruntung dan mungkin ia rugi. Maka inilah yang disebut Maisir/Qimar.adapun kalau dasar maksudnya adalah butuh kepada barang/produk tersebut setelah itu ia mendapatkan kupon untuk ikut undian maka ini tidak terlarang karena asal dalam muámalat adalah boleh dan halal dan tidak bentuk Maisir maupuun Qimar dalam bentuk ini. Rincian ini adalah pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (Liqoul Babul Maftuh no.48 soal 1164 dan no.49 soal 1185. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah), Syaikh Sholih bin ‘Abdul ’Aziz Alu Asy-Syaikh (dalam muhadhoroh beliau yang berjudul “Al Qimar wa Shuwarihil Muharromah), Lajnah Baitut Tamwil Al-Kuwaiti(Al Fatawa Asyar’iyyah Fi Masail Al Iqtishodiyah, fatwa no.228. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah), dan Haiah Fatwa di Bank Dubai Al-Islamy(dalam fatwa mereka no.102 Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah).
2. Hukumnya adalah haram secara mutlak. Ini adalah pendapat Syaikh Abdul
’Äziz bin Baz(Fatawa Islamiyah 2/367-368. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah),dan Al-Lajnah Ad-Da’imah(Fatawa Islamiyah 2/366-367. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah), Alasannya karena hal tersebut tidak lepas dari bentuk Qimar/Maisir dan mengukur maksud pembeli, apakah ia memaksudkan barang atau sekedar ingin ikut undian adalah perkara yang sulit.

Tarjih
Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat pertama. Karena tidak hanya adanya tambahan harga pada barang dan dasar maksud pembeli adalah membutuhkan barang tersebut maka ini adalah mu’amalat yang bersih dari Maisitr/Qimar dan ukuran yang menggugurkan alasan pendapat kedua. Dan asal dalam mu’amalat adalah boleh dan halal. Wallahu A’lam.

Tiga: Undian dengan mengeluarkan biaya.
Bentuknya: Undian yang bisa diikut setiap orang yang membayar biaya untuk ikut undian tersebut atau mengeluarkan biaya untuk bisa mengikuti undian tersebut dengan mengeluarkan biaya.
Contohnya: Mengirim kupon/kartu undian ketempat pengundian dengan menggunakan perangko pos. Tentunya mengirim dengan perangko mengeluarkan biaya sesuai dengan harga perangkonya.
Contoh Lain: Ikut undian dengan mengirim SMS kelayanan telekomunikasi tertentu baik dengan harga wajar maupun dengan harga yang telah ditentukan.
Contoh lain: Pada sebagian tutup minuman tertera nomor yang bisa dikirim ke layanan tertentu dengan menggunakan SMS kemudian diundi untuk mendapatkan hadiah yang telah ditentukan. Apakah biaya SMS-nya dengan harga biasa maupun tertentu (dikenal dengan pulsa premium).
Hukumnya: Haram dan tidak boleh. Karena mengeluarkan biaya untuk suatu yang mu’amalat yang belum jelas beruntung tidaknya, maka itu termasuk Qimar/Maisir. - Beberapa Hukum Berkaitan Dengan Undian

Hasil pemahaman saya terhadap sumber tulisan di atas adalah bahwasanya kunci halal-haramnya undian berhadiah ada pada biaya yang dikeluarkan untuk ikut serta dalam undian itu. Mengeluarkan biaya untuk ikut serta dalam sesuatu yang tidak pasti -bisa untung bisa rugi- seperti undian pada akhirnya diibaratkan seperti gharar, maysir, atau qimar yang diharamkan dalam Islam.

Bila seseorang dengan sengaja mengeluarkan biaya semata-mata untuk ikut undian maka hukumnya haram mengikuti undian tersebut. Kalau seseorang mengeluarkan biaya yang menyebabkan dia berhak ikut undian, seperti dalam hal membeli barang dengan kupon undian, maka dikembalikan kepada niat orang tersebut. Tetap saja kondisi yang paling aman ada pada undian tanpa syarat (biaya).

Kalau memang Anda berkenan untuk mengikuti undian berhadiah, pembagian jenis undian di atas dapat membantu menentukan halal-haramnya undian yang akan diikuti. Yang perlu diingat adalah akan lebih baik bila kita meninggalkan hal-hal yang meragukan dan beralih kepada hal yang tidak meragukan. Kalau kita ragu dengan halal-haramnya undian, maka akan lebih baik kalau kita tidak ikut serta sama sekali dalam undian tersebut.

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/104402401/76478297/BeraniIkutUndianBerhadiah.html

25 April 2009

Haruskah Kita Terlibat Memilih Pemimpin?

Haruskah kita terlibat memilih para anggota legislatif? Haruskah kita terlibat memilih presiden? Bukankah memilih adalah sebuah hak yang dimiliki oleh setiap manusia merdeka? Bukankah tidak terlibat memilih pemimpin pun merupakan pilihan yang menjadi bagian hak asasi kita sebagai manusia?

Kalau kita melihat dari sudut pandang hak asasi, pertentangan antara pihak yang mendukung golongan putih (memilih untuk tidak terlibat memilih) dengan pihak yang tidak mendukung golongan putih tidak akan pernah selesai. Apalagi dalam sistem pemerintahan demokratis, setiap orang berhak mempertahankan haknya. Lagipula siapa yang bisa memastikan bahwa setiap orang akan ikut memilih kalau metode pemilihannya saja bersifat rahasia.

Bagaimana kalau kita lihat dari sudut pandang dampak pilihan kita? Setiap pilihan tentu membawa dampak sekecil apa pun dampak tersebut. Jadi saat kita memilih orang X untuk memimpin, itu berarti kita memiliki andil terhadap dampak yang akan ditimbulkan dari kepemimpinan orang X tersebut. Kalau X membawa kebaikan berarti kita turut andil membawa kebaikan. Kalau X membawa keburukan berarti kita turut andil membawa keburukan.

Apakah dengan tidak memilih itu berarti kita terlepas dari dampak tersebut? Jawabannya adalah TIDAK. Saat kita tidak memilih tetap saja ada yang terpilih menjadi pemimpin. Sama seperti kasus di atas, kalau yang terpilih membawa kebaikan berarti kita turut andil membawa kebaikan dan begitu juga sebaliknya.

Lalu kenapa kita harus memilih kalau pada akhirnya sama saja dengan tidak memilih? Saya sendiri mengalami kesulitan untuk membedakan antara keduanya. Keduanya membawa kemungkinan akan dampak positif maupun negatif yang sama. Perihal andil antara memilih dan tidak memilih pun tidak dapat dibedakan secara tegas.

Walaupun begitu, ada pembeda yang dapat saya paparkan. Kita semua tentu akan menimbang terlebih dahulu sebelum menetapkan pilihan. Kita akan mencari siapa yang baik, siapa yang jujur, siapa yang adil, siapa yang dapat dipercaya, siapa yang mampu membuktikan janji, siapa yang dapat membawa kesejahteraan, dan berbagai pertimbangan lain. Dengan mempertimbangkan itu kita berharap dapat memilih pemimpin yang benar, cerdas, dan bertanggung jawab.

Perbedaan yang nyata antara memilih dan tidak memilih bukan pada pertimbangan tersebut. Bisa saja setelah mempertimbangkan justru kita memutuskan untuk tidak memilih. Perbedaan yang nyata adalah usaha kita untuk mencegah terpilihnya pemimpin yang dikhawatirkan membawa keburukan.

Islam mengajarkan bahwa setiap Muslim harus senantiasa mengajak kepada kebaikan DAN mencegah keburukan. Menurut pendapat saya, memilih untuk tidak memilih ibarat berhenti pada tahap mengajak kepada kebaikan. Saat tidak ada lagi calon pemimpin yang benar, tidak memilih sama artinya mengajak kepada kebaikan. Kenapa begitu? Karena dengan tidak memilih bukan berarti tidak ada yang terpilih. Bukan tidak mungkin dengan tidak memilih itu malah berakibat calon pemimpin yang paling buruk yang akan terpilih.

Sementara dengan memilih, kita melakukan kedua-duanya, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Walaupun tidak ada lagi calon pemimpin yang benar, kita berusaha untuk memilih calon pemimpin yang terbaik. Dengan begitu kita pun turut andil dalam mencegah terpilihnya calon pemimpin yang lebih buruk dari yang kita pilih.

Paparan saya di atas mencoba mengarahkan bahwa usaha kita dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan akan lebih nyata dengan memilih calon pemimpin yang benar, cerdas, dan bertanggung jawab dan mencegah terpilihnya calon pemimpin yang tidak benar. Memilih untuk tidak memilih justru membuka peluang terpilihnya calon pemimpin yang tidak benar itu.

Terlepas dari semua yang saya sampaikan di atas, saya tidak bermaksud menyalahkan mereka yang tidak memilih. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, memilih untuk tidak memilih adalah hak kita sebagai manusia.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/101596725/5a4c9371/HaruskahKitaTerlibatMemilihPemimpin.html

11 Februari 2009

Ingin Boikot Produk Pendukung Israel?

Saat pertama kali saya memutuskan untuk boikot produk-produk pendukung Israel, saya kebingungan. Produk apa yang perlu saya boikot? Apakah produk Amerika dan Israel? Tapi bagaimana saya tahu produk yang tepat untuk diboikot? Saya tidak ingin sembarangan melakukan boikot dan merugikan diri saya sendiri terutama bila produk yang akan saya boikot adalah produk yang memang saya butuhkan.

Setelah lama mencari informasi, akhirnya saya menemukan sebuah situs bernama "Innovative Minds" di http://www.inminds.co.uk/. Pintu masuk menuju informasi tentang boikot produk Israel ada di http://www.inminds.co.uk/boycott-israel.php. Dari sini saya menemukan daftar produk-produk yang diidentifikasi sebagai pendukung Israel. Halaman yang menyediakan daftar tersebut dapat diakses di http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html.

Ternyata banyak produk yang biasa saya konsumsi masuk ke dalam daftar itu seperti Coca Cola dan Nokia. Saya perhatikan satu per satu produk yang masuk ke dalam daftar tersebut dan menemukan semakin banyak produk yang biasa saya konsumsi seperti rekan-rekannya Coca Cola (Fanta dan Sprite), McDonald's, dan lain-lain.

Yang menarik dari daftar produk tersebut adalah setiap gambar produk yang ditampilkan tertaut dengan informasi berisi temuan-temuan yang mengindikasikan bahwa produk tersebut mendukung Israel. Saya coba klik gambar McDonald's dan menemukan temuan-temuan yang mendukung klaim bahwa McDonald's mendukung Israel. Hal ini berlaku sama untuk produk-produk yang lain.

Sayangnya sampai saat penulisan ini saya baru sampai pada tahap mengidentifikasi produk-produk apa saja yang perlu saya hindari namun belum sampai kepada keputusan tegas untuk meninggalkan produk-produk itu.

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)

31 Januari 2009

Kenapa Perlu Boikot Produk Pendukung Israel?

Seruan untuk memboikot produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan pendukung Israel sudah lama bergaung. Walau sempat meredup, serangan Israel ke dalam Jalur Gaza telah mengembalikan kelantangan seruan itu melalui beberapa demonstrasi yang dilakukan di berbagai negara.

Tapi apakah langkah-langkah boikot itu perlu dilakukan? Pertanyaan ini kemungkinan akan muncul di benak orang-orang yang baru mengenal proses boikot produk seperti ini. Bahkan sebagian orang mungkin menganggap boikot seperti ini sia-sia atau justru merugikan pihak-pihak lain yang tidak terlibat.

Misalnya kita ingin memboikot produk ABC. Apa yang kita harapkan dari boikot produk ABC? Memboikot produk sering diartikan sebagai cara untuk menghentikan perusahaan produsen produk tersebut. Jadi kemungkinan besar tidak sedikit orang yang akan berpikir bahwa boikot produk ABC bertujuan untuk menjatuhkan perusahaan produsen produk ABC.

Seandainya perusahaan produsen produk ABC jatuh, dampaknya akan dirasakan oleh para karyawan mereka. Dampaknya akan semakin luas bila perusahaan tersebut memiliki lebih banyak karyawan. Apalagi kalau perusahaan tersebut sudah bergerak di tingkat internasional, dampaknya akan dirasakan oleh lebih banyak pihak.

Selain itu dampak juga akan dirasakan oleh mereka yang menyuplai barang atau jasa ke perusahaan produsen produk ABC. Seandainya produk ABC ini adalah produk makanan, dampaknya akan dirasakan oleh mereka yang menyuplai bahan mentahnya.

Kalau kita bicara dampak, saya rasa kita tidak akan berhenti di sini. Tapi kapasitas saya tidak memungkinkan untuk membicarakan dampak ini lebih jauh lagi. Lagipula inti tulisan ini bukan untuk membicarakan dampak dari gerakan boikot karena saya pribadi tidak melihat gerakan boikot sejauh itu.

Gerakan boikot jangan dilihat sebagai gerakan ekstrem yang sepenuhnya dipengaruhi agama atau kebencian terhadap Israel. Kalau memang ada yang melihat dengan cara ini, saya tidak bermaksud menyalahkan. Hanya saja pandangan saya terhadap boikot ini memiliki dasar yang berbeda.

Boikot produk bagi saya berarti tidak membelanjakan uang untuk membeli produk itu. Dengan begitu saya berharap tidak ada sedikit pun uang saya yang diterima oleh perusahaan produsen produk tersebut. Dalam konteks produk pendukung Israel, hal ini berarti saya berharap tidak ada sedikit pun uang saya yang akan digunakan untuk mendukung Israel. Ini berarti saya berharap tidak ada sedikit pun uang saya yang digunakan oleh Israel untuk meneruskan agresinya di Palestina.

Jadi dengan memboikot produk pendukung Israel, saya memperkecil kemungkinan bahwa uang yang saya belanjakan akan digunakan untuk memperkuat agresi Israel di Palestina. Dengan memboikot produk tersebut, saya memperkecil keterlibatan saya dalam gerakan Zionisme Israel.

Di sini mungkin timbul pertanyaan, "memang sebesar apa uang yang saya belanjakan?" Jawabannya tentu tidak besar. Saya bukan orang yang banyak harta dan saya bukan termasuk orang yang royal. Tapi inti dari "memperkecil keterlibatan" di atas bukan pada jumlah. Entah 1 milyar Rupiah atau seribu Rupiah, terlibat berarti terlibat. Gerakan boikot produk pendukung Israel bagi saya adalah memperkecil atau bahkan menutup keterlibatan itu.

Menurut saya, gerakan boikot cukup dilihat dari pandangan seperti saya paparkan di atas. Gerakan boikot produk pendukung Israel jangan langsung dilihat sebagai usaha untuk merugikan perusahaan pendukung Israel. Gerakan boikot ini bukan untuk merugikan berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Gerakan boikot merupakan panggilan moral untuk menghindari keterlibatan seseorang dalam agresi Israel.

Dalam konteks yang lebih luas, gerakan boikot ini justru bermaksud mengingatkan perusahaan pendukung Israel dan pihak-pihak yang terlibat untuk berhenti mendukung Israel. Misalnya terjadi boikot terhadap produk ABC, pihak-pihak terkait diharapkan menyadari keterlibatan mereka dalam agresi Israel. Harapan para pendukung gerakan boikot ini adalah mereka yang sudah terlibat bisa mengurangi atau bahkan menghentikan dukungan mereka.

Terus terang masalah ini termasuk masalah pelik. Hal ini terkait erat dengan ketergantungan seseorang dengan produk yang akan diboikot. Semakin perlu seseorang dengan sebuah produk, semakin sulit bagi orang itu untuk meninggalkannya. Tapi selama ada niat, insya Allah ada jalan. Kita tidak akan pernah sampai ke ujung jalan bila kita tidak pernah mengambil langkah pertama.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95598170/ca679124/KenapaPerluBoikotProdukPendukungIsrael.html

21 Januari 2009

Hamas Lebih Parah dari Nazi

Tulisan sebelumnya dalam blog ini mencantumkan sebuah hadits yang saya kutip kembali di bawah ini.

"Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, "Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia." Kecuali pohon "Gharqad" yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi." - HR. Ahmad

Ternyata hadits ini diartikan sebagai bentuk kebencian Islam terhadap Yahudi. Hadits ini dianggap membenarkan dan bahkan menganjurkan pembunuhan setiap Yahudi tanpa menyisakan satu orang pun. Dengan cara pandang seperti ini, kita tidak perlu terkejut bila orang mengatakan Hamas lebih parah dari Nazi karena hadits ini menjadi bagian dari dasar perjuangan Hamas.

Tapi kita semua tahu bahwa pemahaman terhadap Islam tidak boleh dilakukan secara parsial. Sungguh tidak bijaksana bagi seseorang untuk memahami sesuatu dalam Islam dari sebuah hadits. Bahkan memahami ayat-ayat Al Quran pun harus dilakukan secara menyeluruh, apalagi untuk memahami hadits.

Saya percaya pergerakan Hamas mengacu kepada Islam dan para pemimpin Hamas adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Oleh karena itu, saya sebagai Muslim turut mendukung perjuangan Hamas dalam melawan penjajahan Israel.

Untuk menyikapi hadits di atas, kita bisa melihat beberapa ayat dalam Al Quran yang saya kutip di bawah ini.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." - Al Quran (Al Baqarah:190)
"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir." - Al Quran (Al Baqarah:191)
"Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." - Al Quran (Al Baqarah:192)
"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim." - Al Quran (Al Baqarah:193)

Empat ayat yang saya kutip di atas termasuk mudah dicerna oleh orang awam. Inti dari empat ayat tersebut adalah Muslim dilarang melampaui batas dalam berperang. Serang hanya bila diserang. Musuhi hanya bila dimusuhi. Peperangan yang dilakukan harus dalam konteks mempertahankan diri dari kehancuran.

Yang diperangi pun bukan sembarang orang. Yang diperangi hanya orang-orang yang memerangi kita. Yang dimusuhi pun hanya orang-orang yang memusuhi kita (umat Islam). Tidak dibenarkan bagi seorang Muslim untuk memerangi dan memusuhi sembarang orang tanpa alasan.

Bila peperangan itu sudah berlalu maka kita bergegas kembali kepada kebaikan. Kita pun bergegas menyudahi peperangan. Kita pun bergegas menyudahi permusuhan. Berlama-lama dalam peperangan dan permusuhan tentunya bertentangan dengan Islam yang berperan membawa rahmat bagi alam semesta.

Selain itu, pemahaman hadits di atas sebatas pembantaian seluruh kamu Yahudi pun terbilang dangkal. Agama di dunia saat ini bukan Islam dan Yahudi saja. Ke mana perginya agama-agama lain? Mungkin yang dimaksud Islam dan Yahudi dalam hadits di atas adalah kelompok pro-Islam dan kelompok pro-Yahudi. Jadi bukan tidak mungkin ada orang Yahudi yang masuk kelompok pro-Islam.

Lagipula saya tidak pernah menemukan ayat dalam Al Quran maupun hadits yang secara eksplisit membenarkan pembantaian suatu kaum. Kalau kita meyakini akan ada peperangan antara Islam dan Yahudi sebelum akhir zaman, kita pun harus yakin pasti ada alasan yang membenarkan kita memerangi Yahudi sampai ke akar-akarnya.

Perjuangan Hamas dan seluruh rakyat Palestina saat ini adalah untuk memperjuangkan hak mereka yang direbut oleh penjajah Israel. Saya mendukung hal ini dan sebisa mungkin mengajak orang lain, terlepas dari agama mereka, untuk mendukung hal ini. Kalau Hamas melakukan kejahatan seperti yang Israel lakukan terhadap Palestina hingga saat ini, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan menggugat Hamas dan menghentikan dukungan saya terhadap perjuangan mereka.

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: http://www.4shared.com/file/95599537/8fda0e3a/HamasLebihParahDariNazi.html

19 Januari 2009

Awal Perdamaian di Gaza?

Mari kita cermati sebuah hadits yang saya kutip di bawah.

"Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, "Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia." Kecuali pohon "Gharqad" yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi." - HR. Ahmad

Kutipan di atas bukan bermaksud untuk melancarkan provokasi agar orang Islam menjadikan semua orang Yahudi sebagai musuh. Walaupun fakta saat ini para pendukung Zionisme pantas dimusuhi, hal ini bukan berarti bahwa semua Yahudi pantas dimusuhi.

Kutipan di atas sengaja saya cantumkan untuk melihat kembali fakta mengenai gencatan senjata yang sedang diberlakukan oleh Hamas dan Israel. Apakah gencatan senjata ini akan menjadi awal sebuah proses perdamaian antara Hamas dan Israel? Atau perang justru akan berlanjut sebagai bagian dari tanda-tanda kiamat?

Menurut saya, Israel tidak akan berhenti dalam proses "memerdekakan" dirinya sehingga keberadaan mereka diakui oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Dalam proses tersebut, orang-orang yang tertindas oleh Israel pun tidak akan berhenti berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan mereka.

Israel menganggap diri mereka kuat. Buktinya mereka tidak peduli seruan dari berbagai penjuru dunia saat mereka membumihanguskan Gaza demi mempertahankan diri dari serangan roket rakitan pejuang Hamas. Serangan udara, laut, dan darat dilakukan dengan gencar walaupun banyak rakyat sipil yang menjadi korban.

Proses gencatan senjata pun diwarnai keangkuhan mereka. Mereka mengaku sudah mencapai tujuan mereka, yaitu mencegah serangan roket dari Gaza, padahal beberapa roket berhasil ditembakan tidak berapa lama dari deklarasi gencatan senjata Israel itu.

Walau pada akhirnya Hamas dan sekutunya pun mengumumkan gencatan senjata, hal ini tidak akan merubah fakta bahwa kondisi di Gaza masih rentan. Tentara militer Israel pun belum sepenuhnya mundur dari Gaza. Kondisi di Gaza saat ini ibarat sebuah bom yang masih aktif dan menunggu diledakan.

Tidak mengherankan bila ada banyak orang yang pesimis dengan gencatan senjata antara Hamas dan Israel saat ini; apalagi untuk mencapai perdamaian. Mungkin akan tiba waktunya saat Hamas dan Israel bisa berdamai. Tapi kemungkinan itu sepertinya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.

Walaupun begitu, semoga proses genjatan senjata ini bisa dipertahankan dengan baik dan berbagai bantuan kemanusiaan dapat segera mencapai para korban perang di Gaza. Untuk saat ini, isu kemanusiaan di Gaza harus menjadi prioritas utama.

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)

15 Januari 2009

Lirik untuk Gaza

Cahaya putih yang membutakan
Menerangi langit Gaza malam ini
Orang-orang berlari mencari perlindungan
Tanpa tahu apakah mereka hidup atau mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat mereka
Dengan kobaran api yang merusak
Dan tiada lagi yang tersisa
Hanya teriakan yang menembus asap tebal

Kami tidak akan kalah
Malam ini, tanpa perlawanan
Kau boleh bakar masjid kami dan rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tak akan pernah mati
Kami tidak akan kalah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai malam demi malam
Sementara para pemimpin dunia di sana
Memperdebatkan siapa yang salah atau benar

Tapi kata-kata lemah mereka tak punya arti
Sementara bom terus menghujani ibarat hujan asam
Tapi dengan air mata dan darah dan rasa sakit
Kau masih bisa mendengar teriakan di antara asap tebal itu

KAMI TIDAK AKAN KALAH
Malam ini, tanpa perlawanan
Kau boleh bakar masjid kami dan rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tak akan pernah mati
KAMI TIDAK AKAN KALAH
Di Gaza malam ini

Diterjemahkan oleh Amir dari WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza) oleh Michael Heart.

Lagu asli dapat diakses dan diunduh dari http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html.

--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)

10 Januari 2009

Solusi untuk Gaza?

Kabarnya sampai saat ini korban jiwa di Gaza sudah mencapai angka 800. Sementara korban luka-luka sudah menembus angka 3000. Di pihak Israel sedikitnya 13 orang sudah menjadi korban. Walaupun begitu Israel tidak terlihat punya niat untuk segera menghentikan serangan ke Gaza.

Penyampaian bantuan kemanusiaan, yang sering dipersulit kondisi medan dan sikap Israel, memang dapat membantu korban perang di Gaza. Tapi itu semua pada dasarnya tidak memiliki peran signifikan karena korban terus bertambah. Setiap bantuan yang dikirimkan untuk membantu korban perang di Gaza akan kehilangan nilainya kalau perang di Gaza tidak berhenti.

Resolusi yang ditawarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dianggap tidak dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza. Roket-roket masih diluncurkan ke wilayah Israel. Bombardir masih diarahkan kewilayah Palestina. Kedua pihak yang berperang kesulitan menemukan titik temu untuk mencapai kesepakatan.

Sampai saat ini tidak terlihat tanda-tanda akan ada gerakan dari pasukan perdamaian di bawah komando PBB. Amerika Serikat (AS) masih berpegang teguh pada prinsipnya untuk membela hak negara Israel dalam menjaga keamanan negaranya dari serangan roket pihak Hamas. Sepertinya alasan ini juga yang membuat proses pembuatan resolusi di PBB menjadi lambat.

Pada akhirnya mungkin kita akan berpikir, kalau kesepakatan damai tidak dapat tercapai, pilihan apa yang tersisa untuk menghentikan perang di Gaza? Apakah mungkin konflik di Gaza hanya dapat diselesaikan dengan kekalahan di salah satu pihak yang berseteru? Mungkinkah kontak senjata antara pasukan Hamas dan pasukan Israel hanya dapat dihentikan dengan kekalahan di salah satu pihak?

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)

03 Januari 2009

Dunia untuk Palestina

Konflik Palestina-Israel harus dibawa ke konteks yang lebih luas dan tidak berhenti pada konteks agama. Konflik ini bukan sekedar masalah perseteruan antara Islam dan Yahudi. Konflik ini menyentuh isu kemanusiaan yang memperlihatkan adanya pelanggaran hak-hak rakyat sipil Palestina oleh pasukan militer Israel.

Tidak perlu menjadi seorang Muslim untuk menyadari bahwa orang-orang Palestina membutuhkan bantuan. Tidak perlu menjadi seorang Muslim untuk menyadari bahwa Israel sedang melakukan sebuah kesalahan. Dengan moral dan hati yang bersih, kita bisa melihat bahwa rakyat sipil Palestina telah menjadi korban kebrutalan pasukan militer Israel.

Sebuah artikel di Republika Online memberitakan beberapa selebriti Inggris seru Israel hentikan pembunuhan. Tiga selebriti yang disebutkan dalam artikel tersebut menyatakan sikap tidak setuju terhadap agresi militer Israel tanpa membawa embel-embel Islam atau Yahudi.

Coba kita bayangkan kalau apa yang terjadi di Palestina juga terjadi di tempat tinggal kita. Apakah kita akan tinggal diam bila tempat tinggal kita dijajah? Apakah kita akan tinggal diam bila tempat tinggal kita dihujani bom? Apakah kita akan tersenyum saat melihat keluarga kita tewas akibat ledakan bom? Apakah kita akan tertawa saat kita terluka akibat ledakan bom?

Ada banyak pertanyaan yang dapat kita tanyakan kepada diri kita sendiri untuk menimbulkan rasa empati kepada nasib rakyat sipil Palestina. Jangan sampai mata kita dibutakan oleh konteks Islam-Yahudi sehingga kita gagal melihat masalah yang sebenarnya terjadi.

Mari kita membantu rakyat sipil Palestina. Mereka butuh bantuan untuk merawat luka-luka, mengurus kematian, dan bertahan hidup. Mereka butuh makanan, minuman, obat-obatan, dan tempat tinggal. Mereka adalah korban perang.

Ada banyak lembaga yang dapat membantu menyampaikan bantuan kita ke rakyat sipil Palestina. Komite Nasional untuk Rakyat Palestina menerima donasi untuk Palestina. MER-C memiliki rekening khusus untuk donasi ke Palestina. Blog Save Palestine membeberkan beberapa lembaga yang siap menerima bantuan uang untuk disalurkan ke Palestina.

Masih banyak cara lain untuk membantu rakyat sipil Palestina. Turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi damai menyuarakan kecaman terhadap agresi militer Israel. Memberikan komentar logis dan tidak emosional dalam bentuk apa pun mengenai kejahatan perang yang dilakukan Israel. Mengajak pihak lain untuk membantu rakyat sipil Palestina. Kalau memang tidak ada yang bisa kita lakukan, mari kita berdoa agar segera terbentuk perdamaian di wilayah Palestina dan Israel.

Referensi:
--
Amir Syafrudin

Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)